ICT

Management of information technology-based learning and communication is the use of ICT in the learning process of habituation is expected to occur gradually, thus will be a snowball effect on the ability of students’ mastery of ICTs; enhance the role and activities of students in the learning process: the process of learning that can be implemented without a limited time and place, Anywhere, Anytime, Anything. Learning management include: planning, implementation and evaluation. The purpose of this study were to: 1) Determine the pattern of ICT-based learning management, 2) Analyze the application of ICT-based learning management patterns, 3) Examine the problems facing teachers and principals in applying ICT-based learning management, and 4) Knowing-based efforts to improve learning ICT. Underlying theories in the study, including: 1) Management Theory, 2) Theory Behavioristic, 3) Theory of Constructivism, 4) Cognitive Theory of Multimedia, and 5) Information Processing Theory. This study uses qualitative research methods, because this study aimed to gain deeper insight and depth in the management of ICT-based learning. The findings of this study summed up as follows: 1) aspect of the ability of the majority of teachers are able to make the planning, implementation and evaluation of ICT-based learning, but there are some teachers who because of advanced age and poor response to the use of ICT-based facilities, 2) Facilities-based ICT is still incomplete. In a learning-based improvement efforts in information and communication technology in general, among others, through: 1) provision of facilities to support ICT-based learning in stages with the help of funds and submission of budgets to budget, 2) provide training to improve the quality of teachers’ skills in using ICT-based to support learning. Conclusion The study results illustrate the ability of teachers in ICT-based learning management most of them are capable of, but there is a small disadvantaged because of their age and the lack of response is not yet complete and ICT-based facilities. The suggestions of this study include: are as follows: 1) to empower teachers to be more professional, so that an increase in the performance of teachers and proficient in applying the model of learning, especially with the use of ICT facilities, 2) In the management of ICT-based learning is needed competence and motivation of teachers and students of higher learning so that management can work to its full potential, 3) It will be good teachers are more creative in improving and creating innovative ICT-based learning by attending various seminars, workshops, and training in the use of ICT in learning, 4) for related intansi government, the Provincial Education Department, Office of Education, Youth and Sports are expected to conduct training on the use of ICT in learning, 5) For schools, the government in order to complete the facility and infrastructure needs are met so that the ICT-based learning and ICT-based optimal evenly, 6) The Government, Provincial and District Education Office in order to provide a budget for ICT facilities. 7) For further research, in order to increase knowledge and experiences on ICT-based learning.

 

Pengelolaan Pembelajaran Berbasis TIK

BAB I PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Dalam dua dasawarsa terakhir ini, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mengalami  perkembangan yang amat pesat dan secara fundamental telah membawa perubahan yang signifikan dalam percepatan dan inovasi penyelenggaraan pendidikan di berbagai negara.

Bahkan terdapat tekanan TIK yang sangat besar terhadap sistem pendidikan secara global karena: (i) teknologi yang berkembang menyediakan kesempatan yang sangat besar untuk mengembangkan manajemen pendidikan dan proses pembelajaran di sekolah, (ii) hasil belajar siswa yang spesifik dapat diidentifikasi dengan pemanfaatan teknologi baru tersebut, dan (iii) TIK memiliki potensi yang sangat besar untuk mentransformasikan seluruh aspek di dalam pendidikan di sekolah dan memanfaatkannya untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.

Sejumlah negara telah mengintegrasikan TIK dalam perencanaan dan penyelenggaraan pendidikan nasionalnya. Singapura, misalnya, telah menerapkan teknologi informasi interaktif pada sistem persekolahan dengan rasio satu komputer dua siswa. Sistem jaringan dibangun untuk menghubungkan pendidikan, dunia internasional, dunia industry berteknologi tinggi, dan dunia kerja. Ringkasnya, beberapa negara telah mengubah kultur pembelajaran dengan mengintegrasikan teknologi digital ke dalam kegiatan belajar dan bekerja di sekolah.

Peralihan kultur yang dimaksud di atas hanya bisa terjadi kalau komunitas pendidikan memiliki komitmen yang kuat untuk memanfaatkan TIK. Kelompok komunitas tersebut adalah para praktisi pendidikan baik yang berkaitan dengan manajemen maupun proses belajar mengajar pada semua tingkatan dan unit pendidikan, yang terdiri atas guru, dosen, instruktur, kepala sekolah, pengawas, staf administrasi, dan pejabat dalam lingkungan departemen pendidikan. Yang tak kalah pentingnya adalah para subjek pendidikan dari semua jenjang yang terdiri atas siswa dan mahasiswa. Dalam konteks ini, pemanfaatan TIK harus direalisasikan untuk (a) pengelolaan pendidikan melalui otomasi system informasi manajemen dan akademik berbasis TIK, dan (b) sistem pengelolaan pembelajaran baik sebagai materi kurikulum, suplemen dan pengayaan maupun sebagai media dalam proses pembelajaran yang interaktif serta sumber-sumber belajar mandiri yang inovatif dan menarik. Dengan kata lain, pendayagunaan TIK dalam manajemen pendidikan dan proses pembelajaran bertujuan untuk menfasilitasi penyelenggara dan peserta pendidikan guna mendorong peningkatan kualitas pendidikan.

Komitmen tersebut perlu dipertahankan untuk menjaga kesinambungan pemanfaatan TIK dalam dunia pendidikan. Rekdale (2001) mengemukakan bahwa pada program di masa lalu untuk menyediakan teknologi ke sekolah kebanyakan mencapai sedikit sukses dalam jangka waktu yang cukup lama dan jarang sekali menunjukkan perkembangan.

Persyaratan mengenai laboratorium bahasa adalah contoh yang umum. Biasanya ada enam masalah utama, yaitu ; (i) Anggaran untuk perawatan fasilitas awal tidak tersedia; (ii) Pelatihan biasanya terlalu spesifik dan tidak berhubungan dengan kebutuhan di lapangan atau perubahan sikap, (iii) Tidak tersedianya karyawan untuk perawatan rutin dan pengembangannya, (iv) Tidak tersedianya teknisi ahli atau terlalu mahal, (v) Materi yang sesuai untuk mengajar tidak tersedia, dan (vi) Lemahnya kondisi kerja guru di lapangan mendorong bahwa mereka tidak dapat membagi waktu untuk mengembangkan materi mengajar secara kreatif. Di sisi lain, sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan TIK dalam pembelajaran memiliki dampak positif terhadap performansi dan prestasi belajar siswa (Graus, 1999; Stepp-Greany, 2000; Stepp-Greany, 2002; and Choi and Nesi, 1999).

Hal di atas menunjukkan bahwa pemanfaatan TIK di bidang pendidikan perlu mendapatkan perhatian yang serius dari berbagai pihak terkait, termasuk mengatasi masalah-masalah yang sering terjadi. Berdasarkan Rencana Strategis (Renstra) Departemen Pendidikan Nasional tahun 2005-2009, untuk dapat memberikan pelayanan prima, salah satu yang perlu dilakukan adalah pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) yang dilakukan melalui pendayagunaan ICT di bidang pendidikan yang mencakup peran ICT sebagai substansi pendidikan, alat bantu pembelajaran, fasilitas pendidikan, standar kompetensi, penunjang administrasi pendidikan, alat bantu manajemen satuan pendidikan, dan infrastruktur pendidikan.

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat dan diterapkan dalam berbagai bidang kegiatan. Robertson mengatakan TIK digunakan dalam hampir semua aspek kehidupan dan pengaruhnya diperkirakan akan membawa dampak yang lebih besar terhadap dunia akan datang (Isjoni et al., 2008 : 76). Penerapan TIK terutama adalah memberikan kecepatan memperoleh dan mengolah informasi sehingga mampu membantu menetapkan keputusan yang lebih cepat dan tepat (Mustafa, 2007 : 2). Perkembangan TIK juga menyebabkan membanjirnya beragam informasi dengan akses yang sangat mudah. Beragam informasi tersebut jika dikelola dengan benar maka akan sangat membantu mengambil keputusan dalam berbagai aspek kehidupan. Hasil pengolahan informasi tersebut dapat dibuat untuk menimbulkan hal yang bermanfaat, merugikan atau bahkan berbahaya untuk pemakainya maupun penciptanya (Mustafa, 2007 : 2).

Penerapan TIK yang tepat akan mampu menimbulkan manfaat dalam kegiatan usaha dan industri menuntut kepada calon tenaga kerja harus memiliki kemampuan dibidang TIK. John Naisbitt mengatakan Negara yang unggul dalam teknologi informasi, maka Negara tersebut akan unggul pula dalam mendominasi dunia (Isjoni, et al., 2008 : 9).

SMK telah menerapkan pembelajaran yang menerapkan TIK sejak tahun 1999 dengan diberlakukannya Kurikulum SMK edisi 1999. Didalam kurikulum SMK Edisi 1999 terdapat mata pelajaran Komputer yang masuk didalam Kelompok Mata Pelajaran Adaptif dan diberikan kepada semua Program Keahlian. Pada tahun 2004 dengan diberlakukannya kurikulum Edisi 2004, Mata Pelajaran Komputer diganti dengan Mata Pelajaran Ketrampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) dimana didalam Mata Pelajaran KKPI ini terjadi pengembangan materi kepada penguasaan Pengelolaan Informasi. Demikian juga dengan Standar Isi Mata Pelajaran KKPI Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mengandung substansi materi yang sama dengan kurikulum KBK edisi 2004.

Penerapan TIK di sekolah selain dalam mata pelajaran TIK, juga menerapkan pembelajaran berbasis TIK pada semua mata pelajaran (.., 2007). Penerapan didalam kegiatan pembelajaran ini diantaranya adalah sebagai media pembelajaran, penayangan materi pemelajaran, sarana menyimpan materi pembelajaran, dan sarana mendapatkan sumber pemelajaran. Selain itu penerapan TIK dalam pembelajaran di sekolah juga memiliki tujuan sebagai sarana kolaborasi pembelajaran dengan sister school, maka penerapan dan pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran menjadi program sekolah yang wajib.

Penerapan dan pemanfaatan TIK dalam Proses pembelajaran memiliki beberapa tujuan diantaranya adalah dapat dikembangkan strategi, metode pembelajaran yang lebih menarik, efektif dan efisien. Bertujuan melahirkan generasi muda yang menguasai TIK, kreatif dan inovatif serta berupaya membawa ekonomi kepada era informasi (Isjoni, et al., 2008 : 17); perluasan sumber-sumber belajar terutama dalam bentuk digital dari internet; perluasan jaringan kerjasama (networking) dan kemitraan dengan lembaga maupun sekolah lain dalam mendukung pengembangan sekolah.

Dengan pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran diharapkan terjadi pembiasaan secara bertahap, dengan demikian akan terjadi ―efek bola salju‖ terhadap kemampuan penguasaan TIK siswa; meningkatkan peran dan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran; proses pembelajaran yang dapat dilaksanakan tanpa dibatasi waktu dan tempat, Anywhere, Anytime, Anything (Isjoni et al., 2008 : 79); Siswa akan mudah memahami konsep-konsep yang abstrak (Made, 2009 : 209); through an e-learning intervention, did improve student performance in terms of test scores… These are (1) ICT as an agent of learning, (b) site specificity, and (c) global improvement (Chandra dan Lloyd, 2008 : 1). e-learning system design patterns are a new means for effective, efficient and transferable instructional design in technology enhanced learning environments” (Retalis et al., 2006 : 5). ―Overall, the students‟ feedback was positive and they commented on gaining a number of skills including, using technology, group working and presentations” (Leese, 2008 : 1)

Sifat demografi Indonesia yang memiliki 240 juta penduduk yang tersebar di lebih dari 17 ribu pulau merupakan masalah dalam didalam perluasan akses pendidikan dan peningkatan mutu pendidikan. Sebagai Negara berkembang, tidak semua tempat dilengkapi dengan prasarana teknologi tinggi, bahkan beberapa tempat belum pernah terjangkau listrik. Namun demikian pemerintah tetap berusaha untuk menciptakan standar nasional pendidikan dari berbagai aspek, termasuk pemanfaatan TIK didalam untuk memperluas dan mempercepat akses pendidikan dari berbagai tempat dan waktu yang tidak terbatas. Menteri Pendidikan Nasional mengatakan melalui jejaring TIK untuk bidang pendidikan diharapkan akan mempermudah pelayanan dan mempercepat penanganan masalah pendidikan antar daerah di seluruh Indonesia (Isjon et al., 2008 : 19).

Pemerintah memahami bahwa teknologi baru dari TIK dapat digunakan dalam bidang pendidikan. The potential of e-learning to satisfy different learning styles and greater cognitive development may be significant if materials are well-designed (Jameson, 2006 : 6). Siswa, Guru, dan Peneliti dapat menggunakan TIK untuk menemukan berbagai informasi dan sumber-sumber ilmu dengan mudah. “ICT (including audio, video, and media based on computer feature, internet) can really help many people including teacher and student around Indonesia”(Lee, 2007 : 155).

Sampai sekarang masih belum ada standard yang baku baik dalam hal definisi maupun implementasi pembelajaran berbasis TIK, hal ini menjadikan banyak orang mempunyai konsep yang bermacam-macam. suggests that technology will be in its rightful place when a stage of „normalisation‟ has been reached, where computers are as normal and integral a part of everyday teaching as pens and books are (Rogerson et al., 2007 : 2). Namun sebagai Negara berkembang, tidak semua tempat dilengkapi dengan prasarana teknologi tinggi termasuk TIK, bahkan beberapa tempat belum pernah terjangkau listrik, sehingga pengelolaan pembelajaran berbasis TIK memiliki pola yang berbeda.

Pembelajaran memerlukan hubungan manusia dengan manusia dan sentuhan guru dengan murid. Guru perlu bersedia melaksanakan tugas baru bagi pengembangan TIK dalam pengajaran dan pembelajaran. Guru perlu meninggalkan pembelajaran konvensional dan memikirkan untuk pembelajaran yang lebih dinamis dan interaktif dengan menggunakan TIK. Namun kenyataannya tidak semua guru telah dibekali penguasaan teknologi komunikasi dan informasi, termasuk pemanfaatannya dalam pembelajaran. Keterampilan TIK banyak guru (terutama yang lebih tua) masih lemah, yang membuat mereka tidak mampu menggunakan TIK secara efektif (Muijs et al., 2008 : 357). Dari penelitian yang dilakukan Mustafa (2007) menunjukan kurang dari setengah guru SMK yang menguasai teknologi komunikasi dan informasi (Mustafa, 2007 : 80).

 

 

 

B.    Perumusan dan Pembatasan Masalah

 

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka perumusan masalah adalah Bagaimanakah pengelolaan pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi di Sekolah‖.

Untuk pembahasan  tidak terlalu luas maka kami akan membahas :

1. Bagaimanakah perencanaan pembelajaran berbasis TIK

2. Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran berbasis TIK

3. Bagaimanakah penilaian pembelajaran berbasis TIK

 

C.   Tujuan Penulisan

 

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan, memahami, dan memaknai hal-hal yang paling mendasar dalam pengelolaan pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi di Sekolah. Pengelolaan pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi di Sekolah, digambarkan, dikaji secara induktif dan komparatif dalam rangka mengembangkan konsep dan makna.

Secara khusus dan lebih rinci penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi, menggambarkan dan memaknai :

1. Prinsip-prinsip perencanaan pembelajaran berbasis TIK .

2. Prinsip-prinsip pelaksanaan pembelajaran berbasis TIK .

3. Prinsip-prinsip penilaian pembelajaran berbasis TIK .

 

D.   Manfaat Penulisan

 

Sebagai penulis, penulisan ini memberi sumbangan konseptual utamanya kepada pembelajaran berbasis TIK. Sebagai penulis pengelolaan pembelajaran berbasis TIK yang aplikatif, penelitian memberikan sumbangan substansial kepada lembaga pendidikan formal dan guru berupa model pembelajaran berbasis TIK.

1.    Manfaat Teoritis

  1. Secara umum, penelitian ini memberikan sumbangan kepada pembelajaran berbasis TIK, terutama proses perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajran berbasis TIK. Pada masa sekarang ini bahwa pembelajaran berbasis TIK diyakini mampu memberikan pembelajaran yang menarik, efektif dan efisien dengan interaktifitas yang tinggi. Bersama model yang lain, penelitian ini memperkaya model pengelolaan pembelajaran berbasis TIK.
  2. Secara khusus, penelitian ini memberikan sumbangan pilihan strategi pengelolaan pembelajaran berbasis TIK pada masing-masing proses pembelajaran, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran berbasis TIK

2.    Manfaat Praktis

  1. Bagi LPTK dan Sekolah dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk mengembangkan kompetensi guru dalam pengelolaan pembelajaran berbasis TIK. Kompetensi guru dalam pengelolaan pembelajaran berbasis TIK merupakan kebutuhan yang mendesak karena pembelajaran yang inovatif, kreatif dan menarik akan mampu memberikan pembelajaran yang bermutu.
  2. Bagi Guru, model hasil penelitian ini dapat digunakan untuk penyelenggaraan pembelajaran berberbasis TIK dengan memberhatikan model pembelajaran berbasis TIK lebih lanjut.

 

 

BAB II KAJIAN TEORI

 

A.   Pengertian TIK

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencakup dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi. Teknologi Informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Teknologi komunikasi mencakup segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentrasfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Karena itu, penguasaan TIK berarti kemampuan memahami dan menggunakan alat TIK secara umum termasuk komputer (Computer literate) dan memahami informasi (Information literate). Tinio mendefenisikan TIK sebagai seperangkat alat yang digunakan untuk berkomunikasi dan menciptakan, mendiseminasikan, menyimpan, dan mengelola informasi. Teknologi yang dimaksud termasuk komputer, internet, teknologi penyiaran (radio dan televisi), dan telepon. UNESCO (2004) mendefenisikan bahwa TIK adalah teknologi yang digunakan untuk berkomunikasi dan menciptakan, mengelola dan mendistribusikan informasi. Defenisi umum TIK adalah computer, internet, telepon, televisi, radio, dan peralatan audiovisual.

B.    Model Pengembangan TIK dalam Pendidikan

Sejarah pemanfaatan TIK dalam pendidikan, khususnya dalam pembelajaran sangat dipengaruhi oleh perkembangan prangkat keras TIK, khususnya komputer. Teemu Leinonen (2005) membagi perkembangan tersebut kedalam 5 fase sebagaimana dilustrasikan pada gambar berikut:

Fase pertama (akhir 1970an – awal 1980an) adalah fase programming, drill and practice. Fase ini ditandai dengan penggunaan perangkat lunak komputer yang menyajikan latihan-latihan praktis dan singkat, khususnya untuk mata pelajaran matematika dan bahasa. Latihan-latihan ini hanya dapat menstimulasi memori jangka pendek.

Fase kedua (akhir 1980an – awal 1990an) adalah fase computer based training (CBT) with multimedia (latihan berbasis komputer dengan multimedia). Fase ini adalah era keemasan CD-ROM dan komputer multimedia. Penggunaan CD-ROM dan komputer multimedia ini diharapkan memberikan dampak signifikan terhadap proses pembelajaran, karena kemampuannya menyajikan kombinasi teks, gambar, animasi, dan video. Konsep pedagogis yang mendasari kombinasi kemampuan ini adalah bahwa manusia memiliki perbedaan. Sebagian bias belajar dengan baik kalau mempergunakan indra penglihatan, seperti menonton filem/animasi, sebagian lainnya mungkin lebih baik kalau mendengarkan atau membaca.

Fase ketiga (awal 1990an) adalah fase Internet-based training (IBT) (latihan berbasis

internet. Pada fase ini, internet digunakan sebagai media pembelajaran. Hanya saja, pada saat itu, masih terbatas pada penyajian teks dan gambar. Penggunaan animasi, video dan audio masih sebatas ujicoba, sehingga dirasakan pemanfaatannya belum maksimal untuk dapat menfasilitasi pembelajaran.

Fase keempat (akhir 1990an – awal 2000an) adalah fase e-learning yang merupakan fase kematangan pembelajaran berbasis internet. Sejak itu situs web yang menawarkan e-learning semakin bertambah, baik berupa tawaran kursus dalam bentuk e-learning maupun paket LMS (learning management system).

Bahkan saat ini sudah cukup banyak paket seperti itu ditawarkan secara gratis dalam

bentuk open source. Konsep pedagogik yang mendasari adalah bahwa pembelajaran

membutuhkan interaksi sosial antara siswa dan siswa dan antara siswa dan guru. Dengan perangkat lunak LMS, siswa dapat bertanya kepada temannya atau kepada guru apabila dia tidak memahami materi yang telah dibacanya.

Fase kelima (akhir 2000) adalah fase social software + free and open content. Fase ini ditandai dengan banyaknya bermunculan perangkat lunak pembelajaran dan konten pembelajaran gratis yang mudah diakses baik oleh guru maupun siswa, yang selanjutnya dapat diedit dan dimanipulasi sesuai dengan kebutuhan. Konsep pedagogik yang mendasari fase ini adalah teori kontstruktivis sosial. Dalam konteks ini, pembelajaran melalui komputer terjadi tidak hanya menerima materi dari internet saja misalnya, tapi dimungkinkan dengan membagi gagasan dan pendapat.

Peranan TIK dalam pendidikan yang diuaraikan di atas mengisyaratkan bahwa pengembangan TIK untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah sesuatu yang mutlak. Dalam Renstra Departemen Pendidikan Nasional tahun 2005-2009, program pengembangan TIK bidang pendidikan akan dilaksanakan melalui tahap-tahap sebagai berikut.

  1. Tahap pertama meliputi (a) merancang sistem jaringan yang mencakup jaringan internet, yang menghubungkan sekolah-sekolah dengan pusat data dan aplikasi, serta jaringan internet sebagai sarana dan media komunikasi dan informasi di sekolah, (b) merancang dan membuat aplikasi database, (c) merancang dan membuat aplikasi manajemen untuk pengelolaan pendidikan di pusat, daerah, dan sekolah, dan (d) merancang dan membuat aplikasi pembelajaran berbasis web, multimedia, dan interaktif.
  2. Tahap kedua meliputi (a) melakukan implementasi sistem pada sekolah-sekolah di Indonesia yang meliputi pengadaan sarana/prasarana TIK dan pelatihan tenaga pelaksana dan guru dan (b) merancang dan membuat aplikasi pembelajaran.
  3. Tahap ketiga dan keempat adalah tahap memperluas implementasi sistem di sekolahsekolah.

Uraian di atas lebih berfokus pada tahapan-tahapan yang diharapkan dilakukan Depdiknas dalam kurung waktu tahun 2005-2009 dalam rangka pengembangan TIK dalam pendidikan. Dalam merealisasikan rencana ini, Depdiknas membangun ICT Center Kabupaten/Kota melalui Program Jardiknas yang terdiri atas jaringan komputer, internet, dan TV Edukasi. ICT Center ini akan terkoneksi dengan sekolah-sekolah dan kantor dinas pendidikan sebagaimana digambarkan pada gambar 2. Selain itu, guru perlu juga diperlengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk menggunakan perangkat TIK. Untuk itu, manajemen sekolah perlu mengetahui kesiapan dan pelatihan TIK yang dibutuhkan guru. Instrumen pada lampiran dapat digunakan untuk tujuan ini.

Penelitian tentang pengembangan TIK di negara-negara maju dan sedang berkembang

menunjukkan bahwa sekurang-kurangnya ada empat pendekatan mengenai pemanfaatan

TIK oleh sistem pendidikan dan sekolah. Keempat pendekatan ini merupakan tahapan

kontinum, yang oleh UNESCO diistilahkan dengan pendekatan emerging, applying,

infusing, dan transforming.

 

Pendekatan Emerging dicirikan dengan pemanfaatan TIK oleh sekolah pada tahap permulaan. Pada pendekatan ini, sekolah baru memulai membeli atau membiayai

infrastruktur TIK, baik berupa perangkat keras maupun perangkat lunak. Kemampuan

TIK guru-guru dan staf administrasi sekolah masih berada pada tahap memulai eksplorasi penggunaan TIK untuk tujuan manajemen dan menambahkan TIK pada kurikulum. Pada tahap ini sekolah masih menerapkan sistem pembelajaran konvensional, akan tetapi sudah ada kepedulian tentang bagaimana pentingnya penggunaan TIK tersebut dalam konteks pendidikan.

Pendekatan Applying dicirikan dengan sudah adanya pemahaman tentang kontribusi dan upaya menerapkan TIK dalam konteks manajemen sekolah dan pembelajaran. Para tenaga pendidik dan kependidikan telah menggunakan TIK untuk tugas-tugas yang berkaitan dengan manajemen sekolah dan tugas-tugas berdasarkan kurikulum. Sekolah juga sudah mencoba mengadaptasi kurikulum agar dapat lebih banyak menggunakan TIK dalam berbagai mata pelajaran dengan piranti lunak yang tertentu.

Pendekatan Infusing menuntut adanya upaya untuk mengintegrasikan dan memasukkan TIK ke dalam kurikulum. Pada pendekatan ini, sekolah telah menerapkan teknologi berbasis komputer di laboratorium, kelas, dan bagian administrasi. Guru berada pada tahap mengeksplorasi cara atau metode baru di mana TIK mengubah produktivitas dan pekerjaan profesional mereka.

Pendekatan Transforming dicirikan dengan adanya upaya sekolah untuk merencanakan dan memperbaharui organisasinya dengan cara yang lebih kreatif. TIK menjadi bagian integral dengan kegiatan pribadi dan kegiatan profesional sehari-hari. Fokus kurikulum mengacu pada learner-centered (berpusat pada peserta didik) dan mengintegrasikan mata pelajaran dengan dunia nyata. TIK diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri dengan level profesional dan disesuaikan dengan bidang-bidang pekerjaan. Sekolah sudah menjadi pusat pembelajaran untuk para komunitasnya.

Dalam konteks belajar mengajar dan kaitannya dengan keempat pendekatan yang

disebutkan sebelumnya, terdapat pula 4 tahap yang berkaitan dengan bagaimana guru dan peserta didik mempelajari dan menemukan percaya diri mereka dalam menggunakan TIK. Keempat tahap tersebut adalah menemukan/mengenali (discovering), belajar bagaimana (learning how), mengerti bagaimana dan kapan (understanding how andwhen), dan menjadi ahli (specializing) dalam penggunaan perangkat TIK.

Pada tahap pertama, guru dan siswa baru mencoba menemu-kenali fungsi dan kegunaan perangkat TIK. Tahap ini berkaitan dengan tahap emerging, yang menekankan pada kemelekan TIK (ICT literacy) dan keterampilan dasar.

Tahap kedua, belajar bagaimana menggunakan perangkat TIK, menekankan pada bagaimana memanfaatkan perangkat-perangkat TIK tersebut dalam berbagai disiplin. Tahap ini meliputi penggunaan aplikasi umum dan khusus TIK, dan berkaitan dengan tahap applying.

Tahap ketiga mengacu pada pemahaman bagaimana dan kapan menggunakan perangkat TIK untuk mencapai tujuan tertentu, seperti menyelesaikan tugas-tugas tertentu. Ini menekankan pada kemampuan membaca situasi kapan TIK dapat membantu, memilih perangkat yang sesuai untuk tugas tertentu, dan menggunakan perangkat ini untuk memecahkan masalah yang sebenarnya. Tahap ini berkaitan dengan pendekatan infusing dan transforming dalam hal pengembangan TIK.

Tahap keempat mengacu pada bagaimana menjadi ahli dalam penggunaan perangkat TIK. Pada tahap ini, siswa mempelajari TIK sebagai mata pelajaran yang membawa mereka untuk menjadi ahli. Hal ini lebih mengarah kepada pendidikan kejuruan atau profesional dan berbeda dengan tahap sebelumnya.

Dalam konteks kemampuan menggunakan TIK di masyarakat, UNESCO (2004) mengemukakan beberapa alasan untuk mengembangkan penggunaan TIK dalam system pendidikan, yaitu (i) untuk mengembangkan atribut pengetahuan-masyarakat bagi siswa, termasuk pengembangan keterampilan berfikir tingkat tinggi, kebiasaan belajar sepanjang hayat, dan kemampuan berfikir secara kritis, mengkomunikasikan dan mengkolaborasikan, mengakses, mengevaluasi dan mensintesis informasi, (ii) untuk mengembangkan keterampilan dan kompetensi TIK pada diri siswa, sebagai bekal yang dapat digunakan untuk memanfaatkan TIK dalam duania kerja dan masyarakat, (iii) untuk mengatasi masalah dalam dunia pendidikan, antara lain termasuk penggunaan TIK untuk meningkatkan efesiensi kegiatan administrasi dan pengajaran, mengatasi keterbatasan sumber bahan dalam bidang tertentu (misalnya kekurangan buku teks atau sumber belajar), mengatasi isu pemerataan melalui perluasan akses terhadap pengetahuan, sumber dan keahlian, atau bahkan membantu guru-guru yang mungkin kurang diperlengkapi dengan sumber belajar yang cukup.

 

C.    TIK dalam Sistem Manajemen Sekolah

Seiring dengan diterapkannya kebijakan otonomi daerah, pengelolaan pendidikan pada tingkat sekolah juga mengalami perubahan mendasar melalui gagasan penerapan pendekatan manajemen berbasis sekolah (MBS) yang dianggap sebagai paradigma baru dalam pengoperasian sekolah. Pendekatan ini memberi peran yang lebih luas kepada sekolah. Dengan kata lain, pendekatan ini memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah sehingga manajemen sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya, sehingga sekolah lebih mandiri. Untuk itu, MBS bertujuan untuk meningkatkan semua kinerja sekolah (efektivitas, kualitas/mutu, efisiensi, inovasi, relevansi, dan pemerataan serta akses pendidikan dalam rangka peningkatan mutu.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut di atas, penerapan TIK perlu dipertimbangkan untuk membantu pelaksanaan manajemen sekolah yang lebih efektif dan efisien. Ruud (2005) menunjuk bahwa investasi TIK di sekolah-sekolah yang kemudian diikuti dengan pengembangan kompetensi guru dan siswa dalam bidang TIK dapat memperbaiki efektifitas pengelolaan sekolah serta meningkatkan kinerja (performance) akademik tenaga kependidikan dan peserta didik. Hal ini dapat dipahami karena penerapan TIK di sekolah akan memberikan kontribusi langsung kepada peningkatan proses manajemen dan administrasi, peluang untuk mengembangkan bahan ajar dan belajar mandiri, motivator bagi siswa untuk mengembangkan kemampuannya, dan sebagai alat untuk pengembangan profesi dan mekanisme inovasi dalam sistem monitoring dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran.

Uraian di atas menunjukkan bahwa penerapan TIK di sekolah merupakan solusi yang paling tepat untuk menunjang peningkatan mutu sekolah termasuk keberhasilan penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan pencapaian standar nasional pendidikan (SNP). Dengan pemanfaatan TIK, tenaga kependidikan dan stakeholders lainnya dapat meningkatkan manajemen sekolah dan aliran informasi yang efisien untuk mendukung pencapaian standar nasional pendidikan dan proses desentralisasi pendidikan di Indonesia.

Berkaitan dengan pemanfaatan TIK untuk mendukung manajemen sekolah, kebijakan Depdiknas tentang TIK yang tersurat dalam renstra Depdiknas perlu ditindaklanjuti dalam bentuk langkah-langkah operasional oleh pemerintah daerah melalui Kantor Dinas Pendidikan pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota, bahkan pada tingkat satuan pendidikan. Dengan demikian, kebijakan-kebijakan pendidikan yang dihasilkan dengan dukungan TIK akan lebih baik dan tepat. Untuk menunjang hal tersebut, perlu dibangun sebuah sistem manajemen pendidikan berbasis TIK yang dapat dimanfaatkan oleh semua lembaga yang terkait dengan pendidikan.

Pada tingkat satuan pendidikan, semua komponen yang terlibat dalam persekolahan perlu merespon positif dan merealisasikannya secara bertahap. Bagi kepala sekolah, usaha yang perlu dilakukan adalah mengupayakan terciptanya manajemen sekolah berbasis TIK yang juga didukung oleh staf administrasi yang memiliki kemampuan TIK yang memadai.

1.   Perangkat Lunak

Dalam penerapan manajemen sekolah berbasis TIK, perangkat lunak tidak kalah pentingnya dengan perangkat keras TIK. Investasi perangkat keras tidak akan bermakna apabila tidak disertai dengan perangkat lunak. Oleh sebab itu, perangkat lunak dalam kaitannya dengan manajemen sekolah perlu dibahas pada bagian ini. Dalam Wikipedia (2007), Perangkat lunak atau piranti lunak adalah program komputer yang berfungsi sebagai sarana interaksi antara pengguna dan perangkat keras. Perangkat lunak dapat juga dikatakan sebagai ‘penterjemah’ perintah-perintah yang dijalankan pengguna computer untuk diteruskan ke atau diproses oleh perangkat keras. Perangkat lunak ini dibagi menjadi 3 tingkatan: tingkatan program aplikasi (application program misalnya Microsoft Office), tingkatan sistem operasi (operating system misalnya Microsoft Windows dan Linux), dan tingkatan bahasa pemrograman.

Pendidikan Dasar dan Menengah telah mengembangkan sebuah perangkat lunak yang diberi nama Paket Aplikasi Sekolah (PAS) yang dilengkapi dengan Buku Petunjuk Operasiona Singkat, yang dimaksudkan untuk membantu administrasi sekolah.

Perangkat lunak semacam ini biasanya terdiri atas beberapa modul aplikasi, yang bervariasi berdasarkan kebutuhan sekolah, seperti Modul Penerimaan Siswa Baru (PSB), Pasca PSB, Administrasi Kepegawaian, Kesiswaan, Akademik, Administrasi Akademik, dan Keuangan. Modul-modul ini biasanya ditampilkan pada Menu Utama program. Namun untuk membuka program ini, biasanya pengguna terlebih dahulu dibutuhkan untuk login dengan memasukkan user name dan pasword.

Modul Penerimaan Siswa Baru: Modul ini dimaksudkan untuk meproses pendaftaran calon siswa baru suatu sekolah melalui program aplikasi komputer tertentu. Modul ini  biasanya terdiri atas sub-sub menu/proses yang harus dilakukan (dipilih), misalnya Penentuan Kapasitas Penerimaan, Data Personal Calon Siswa, Alamat Rumah Calon Siswa, Sekolah Asal Calon Siswa, Surat Tanda Lulus dari Sekolah Asal, Daftar Nilai STL UAN Calon Siswa.

Modul Pasca PSB: Modul ini digunakan untuk memproses administrasi siswa yang dinyatakan diterima/lolos seleksi dan diumumkan melalui sistem aplikasi yang digunakan. Proses ini meliputi pendaftaran ulang siswa baru, penentuan rombel siswa baru, penugasan wali kelas, penentuan kelas siswa baru, setup guru mata pelajaran, jadwal kegiatan pembelajaran, dsb. Berikut ini adalah contoh Form menu pasca PSB.

Modul Administrasi Kepegawaian: Modul ini digunakan untuk melakukan administrasi kepegawaian baik untuk tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan.

Modul Kesiswaan: Modul ini digunakan untuk melaksanakan administrasi siswa yang memuat menu-menu, seperti data siswa, buku induk siswa, statistik siswa, laporan absensi, dan data lain yang terkait dengan administrasi kesiswaan.

Modul Administrasi Akademik: Modul ini digunakan untuk mendministrasikan transaksi rutin kesiswaan (seperti penentuan jurusan, penentuan kelas siswa baru, penentuan NIS, rekap absensi siswa, dan kenaikan kelas), prilaku siswa (meliputi absensi dan pelanggaran siswa), menu cetak (seperti cetak daftar siswa per kelas, formulirabsensi, peserta UAN, dan cetak rapor).

Modul Akademik: Modul ini dimaksudkan untuk mengadministrasi transaksi akademik seperti transaksi rutin kesiswaan (seperti penilaian unjuk kerja dan portofolio, lembar pengamatan, dan UAN) dan pencetakan penilaian (seperti daftar nilai siswa dan portofolio siswa.

Modul Keuangan: Modul ini dimaksudkan untuk administrasi keuangan yang dapat mencakup transaksi rutin kesiswaan (pembayaran siswa), tutup anggaran, dan data keuangan (mencakup penerimaan dana, pengeluaran, subsidi, dan beasiswa).

2.    Manfaat TIK dalam Manajemen Sekolah

Penerapan atau pengintegrasian TIK dalam sistem manajemen sekolah diharapkan dapat memberikan manfaat kepada seluruh pihak yang terkait di sekolah. Manfaat tersebut antara lain:

  1. Manfaat bagi Pemerintah: (i) membantu tersedianya database yang akurat serta arus informasi yang efesien mengenai profil dan peta pendidikan di Indonesia, (ii) mempercepat pemerataan pencapaian standar nasional pendidikan, (iii) membantu pengendalian penyelenggaraan pendidikan
  2. Manfaat bagi Sekolah: (i) membantu sekolah memperbaiki sistem manajemen dan operasionalnya, (ii) membantu sekolah dalam hal penyaluran informasi mengenai profil sekolah dan hasil belajar siswa kepada orang tua dan stakeholder lainnya, (iii) membantu sekolah untuk menyediakan sumber informasi yang mutakhir dan relevan bagi guru dan siswa
  3. Manfaat bagi Guru: (i) membuka peluang bagi guru untuk mengembangkan bahan ajar yang berbasis TIK, menarik, inovatif dan merangsang rasa ingin tahu siswa, (ii) membantu guru untuk menyusun rencana pembelajaran termasuk penyediaan sumber belajar multimedia yang komprehensif dan mutakhir, (iii) memudahkan guru untuk memantau kemajuan belajar siswa, (iv) memfasilitasi guru untuk menyusun laporan dan mengkomunikasikannya dengan orang tua, (iv) membantu guru untuk melakukan penilaian hasil belajar berdasarkan authentic assessment.
  4. Manfaat bagi orang tua: (i) memantau aktivitas dan hasil belajar anaknya di sekolah, (ii) melihat tugas-tugas dari sekolah yang diberikan kepada anak sehingga orang tua dapat berperan serta dalam kegiatan belajar anak, (iii) melihat berbagai program sekolah yang dapat diikuti oleh siswa, (iv) menjadi media interaktif antara sekolah, guru dan orang tua, dan (v) membantu pemantuaan proses pendidikan secara lansung.
  5. Manfaat bagi siswa: (i) membantu siswa untuk terampil menggunakan TIK dalam kehidupannya, (ii) membantu siswa untuk melihat dan menelaah materi belajar per pertemuan, (iii) membantu siswa untuk mengerjakan tugas-tugas dan ujian yang diberikan oleh guru secara online, (iv) membantu siswa membangun kerja kolaboratif, (v) memotivasi siswa untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan seiring dengan kemajuan di bidang sains dan teknologi.
  6. Manfaat bagi komite sekolah: (i) memudahkan pengurus komite untuk memantau dan mengevaluasi program pendidikan di sekolah, (ii) memudahkan pengurus komite untuk berkomunikasi dengan tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah, (iii) memudahkan pengurus komite untuk terlibat dalam menyusun dan merancang program pengembangan pengelolaan  sekolah dan peningkatan mutu pembelajaran.

 BAB III PEMBASAHAN

 

  1. A.       TIK dalam Proses Pembelajaran

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang sangat pesat membawa paradigma baru dalam pendidikan dari berbagai aspek, antara lain perubahan dari pembelajaran tradisional ke pembelajaran baru, dari teacher centered ke learner centered, sampai pada perubahan information delivery ke information exchange.

Perkembangan tersebut juga telah menghasilkan produk-produk TIK yang lebih canggih yang kalau dimanfaatkan seoptimal mungkin, ia dapat membawa nuansa dan perspektif baru dalam dunia pendidikan yang pada gilirannya akan dapat  mengakselerasi peningkatan mutu pendidikan. Selain dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan administratif, produk TIK telah banyak digunakan untuk membantu proses pembelajaran, khususnya di negara-negara maju dan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Banyak yang telah mengklaim bahwa perangkat komputer multimedia berikut piranti

lunaknya sebagai salah satu produk TIK menjanjikan kegiatan yang cukup interaktif dan menyenangkan bagi peserta didik karena alat tersebut tidak hanya mampu menampilkan teks, tapi juga gambar, suara, grafik, animasi, dan rekaman video. Bahkan dengan koneksi di internet, interaksi dapat menjadi nyata yang tentunya membawa pengalaman nyata pula bagi peserta didik. Interaksi lewat internet tersebut dapat bersifat sinkronos atau asinkronos. Pemanfaatan teknologi informasi ini dalam pembelajaran dikenal dengan istilah e-learning, baik dalam bentuk dedicated program, maupun dalam bentuk LMS (Learning Management System) yang menawarkan interaksi yang dinamis antara guru dan siswa.

Fasilitas pembelajaran elektronik lainnya yang dikembangkan di Indonesia adalah TV

Edukasi, yang menampilkan berbagai topik pembelajaran dari berbagai mata pelajaran dengan modus penyampaian yang bervariasi. Banyaknya CD pembelajaran yang dapat ditemukan di pasaran atau didistribusikan ke sekolah-sekolah juga menjadi peluang tersendiri yang dapat dimanfaatkan oleh sekolah dalam menunjang proses pembelajaran yang lebih baik. Sayangnya, meskipun disadari bahwa TIK dapat membantu mempercepat proses pendidikan dan berpotentsi meningkatkan mutu pendidikan, pemanfaatannya belum meluas dan merata di sekolah-sekolah.

Penggunaan perangkat TIK dalam proses pembelajaran di atas adalah bentuk integrasi TIK dengan sistem pembelajaran. UNESCO (2004) mengklaim bahwa integrasi kurikulum adalah pemanfaatan kemampuan TIK untuk memberikan nilai tambah pada proses pembelajaran dengan mengintegrasikan kegiatan-kegiatan berbasis TIK ke dalam kurikulum. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi antara lain: (i) menggunkan paket perangkat lunak generik (paket aplikasi office, grafik, dan presentasi), (ii) menggunakan perangkat lunak khusus untuk pembelajaran interaktif, simulasi, dan penguasaan konten; (iii) menggunakan alat komunikasi sinkronos dan asinkronos untuk kolaborasi online dan pertukaran informasi (email, web forum, instant messaging, audio- dan videoconferencing), dan (iv) menggunakan internet sebagai sumber informasi dan penelitian. Dalam model integrasi kurikulum, keterampilan TIK tidak diajarkan sebagai kegiatan terpisah, tapi didapatkan seiring dengan kegiatan pembelajaran berbasis TIK.

Uraian di atas mengisyaratkan perlunya ada upaya yang sungguh-sungguh untuk mendorong pemanfaatan TIK dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Suatu hal yang menggembirakan bahwa secara kebijakan Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia melalui Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional tahun 2005-2009 telah menyuratkan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dilakukan melalui pendayagunaan TIK di bidang pendidikan sebagaimana diuraikan pada bagian pendahuluan di atas.

Bagi guru-guru, yang paling penting adalah sikap positif dan keinginan untuk memiliki

kemampuan TIK yang dapat menunjang efektifitas dan efisiensi proses belajar mengajar. Tindak lanjut nyata yang dapat dilakukan guru-guru adalah menggunakan perangkat TIK sebagai media pembelajaran interaktif. Dengan demikian, peserta didik akan merasa terfasilitasi dan betah melaksanakan kegiatan belajar di sekolah.

Dalam KTSP, TIK juga diperlakukan sebagai substansi pembelajaran dalam bentuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Mata pelajaran TIK dapat

membantu siswa untuk mengenal, menggunakan, merawat peralatan teknologi informasi dan teknologi komunikasi, serta menggunakan segala potensi yang ada untuk pengembangan kemampuan diri. Selain itu, penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi akan meningkatkan kualitas proses pembelajaran pada semua tingkatan atau jenjang, dengan menjangkau lintas ilmu mata pelajaran lain. Pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi akan memberikan motivasi dan kesenangan kepada siswa supaya siswa lebih mudah belajar dan bekerja secara mandiri. Dengan demikian, Teknologi Informasi dan Komunikasi secara umum bertujuan agar siswa memahami alat Teknologi Informasi dan Komunikasi termasuk komputer (computer literate) dan memahami informasi (information literate). Artinya siswa mengenal istilah-istilah yang digunakan pada Teknologi Informasi dan Komunikasi dan khususnya pada computer yang umum digunakan. Siswa juga menyadari keunggulan dan keterbatasan komputer, serta dapat menggunakan komputer secara optimal. Di samping itu siswa dapat memahami bagaimana dan dimana informasi dapat diperoleh, bagaimana cara mengemas/mengolah informasi dan bagaimana cara mengkomunikasikannya.

1.    Pembelajaran Berbantuan Komputer

Perangkat komputer sudah dikenal luas oleh banyak kalangan masyarakat. Sejak munculnya pada tahun 1950-an, perangkat keras komputer mengalami perkembangan yang sangat pesat sampai saat ini. Perkembangan tersebut dapat dilihat dari kemampuan yang dimiliki komputer pada saat ini. Di samping lebih cepat, ia juga memiliki ukuran yang semakin ramping dan kemampuan dalam bentuk multimedia.

Dengan kata lain, spesifikasi komputer saat ini lebih canggih sehingga memungkinkan komputer tersebut melakukan berbagai tugas multimedia, yang dapat dimuat dalam bentuk CD-ROM, authoring packages atau template pengembangan bahan ajar, atau Internet. Kemampuan multimedia yang dimilikinya memungkinkan komputer menyimpan dan menampilkan lebih dari sekedar teks, tapi juga suara, gambar, grafik, animasi, dan video. Hal ini dimungkinkan dengan perkembangan piranti lunak yang menyertainya, yang dengan mudah dapat diperoleh di toko-toko.

Dengan demikian, penggunaan komputer tidak hanya terbatas pada olah kata dan data, tapi lebih dari itu ia telah digunakan dalam berbagai bidang. Berikut ini

beberapa contoh program pembelajaran komputer dalam bentuk CD-Rom dan

Authoring packages, yakni My First Incredible Amazing Dictionary, Multimedia Flashcard, Encyclopedia Britanica, Compton􀂶s Interactive Encyclopedia, Reading Made Easy, Play and Learn, WIDA Software, dan Storyboard.

Dalam bidang pendidikan, komputer memiliki fungsi yang beragam. Salah satu diantaranya adalah fungsi media pembelajaran, yang dapat meliputi penyajian materi dan latihan. Model pembelajaran seperti ini biasa disebut dengan ‘computer-assisted instruction’ (CAI) atau computer-assisted learning (CAL). Manfaat positif computer dalam bidang pendidikan dan pengajaran telah banyak dilaporkan hasilnya Stepp-Greany (2002) mengadakan penelitian tentang persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran berbasis teknologi. Dia menemukan beberapa hal, antara lain berikut ini: (1) sebagian besar siswa setuju bawa laboratorium komputer membuat pelajaran lebih menarik; mereka juga merasakan bahwa penggunaan CD-ROM menyenangkan; dan (2) siswa merasa percaya diri mengerjakan kegiatan-kegiatan berbasis tugas (task-based activities). Selanjutnya Skinner dan Austin (1999) menyimpulkan bahwa model pembelajaran computer conferencing bermanfaat untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dengan meningkatkan tingkat kepercayaan diri mereka.

Sejumlah penelitian lain yang berkaitan dengan manfaat komputer dalam pembelajaran juga telah dilaporkan hasilnya (Noni, 2002; Felix, 2001; Stepp-Greany, 2000; Shulman 2001; Graus, 1999; Choi dan Nesi; 1999; dan Rosetti 1998). Penggunaan komputer sebagai media pembelajaran sangat bergantung pada perangkatkeras dan lunak yang dimiliki. Seiring dengan kemajuan teknologi, perangkat keras komputer saat sekarang ini tidak diragukan lagi kemampuannya untuk tujuan pembelajaran yang dimaksud di atas. Begitu pula halnya dengan perangkat lunak, sudah cukup banyak dijumpai, walaupun sebagian masih relatif mahal harganya. Guru juga dituntut untuk lebih bijak memilih perangkat lunak yang dapat menunjang pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum.

2.    Komputer dan Siswa

Pengalaman belajar siswa adalah salah satu faktor penentu yang sangat berpengaruh dalam mencapai keberhasilan mereka. Oleh karena itu, guru hendaknya berusaha menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menarik. Salah satu modus pembelajaran yang dianggap dapat memenuhi hal tersebut adalah dengan memanfaatkan komputer sebagai media pembelajaran di kelas atau sebagai selfaccess learning resource.

Sekaitan dengan bagaimana penggunaan komputer mempengaruhi siswa, Brown

(1999) melaporkan bahwa (i) penggunaan komputer memberikan pengaruh positif terhadap penghargaa diri siswa; (ii) siswa dapat belajar secara mandiri tanpa merasa ada orang lain yang mengamati tingkat kesulitan tugas yang dikerjakannya atau kesalahan yang dibuatnya; (iii) sebagai alternatif, siswa juga dapat bekerja secara kelompok, yang bermanfaat bagi siswa dengan kemampuan lebih rendah untuk membangun kepercayaan dirinya yang diperoleh dari siswa lainnya; (iv) komputer menawarkan akses yang fleksibel di mana siswa dapat menggunakannya sesuai dengan waktu yang diinginkannya, baik selama kelas berlangsung atau sebagai tambahan waktu pelajaran; dan (v) pembelajaran berbantuan komputer adalah cara yang efektif secara finansil untuk pembelajaran mandiri, begitupula untuk mengkoordinasikan dan mengelola pembelajaran dan penilaian.

Apabila seorang guru memutuskan untuk memanfaatkan komputer dalam pengajarannya, ia harus mempertimbangkan beberapa saran berikut ini:

  1. Jika sebelumnya belum pernah menggunakan komputer dalam pengajaran, bicarakanlah dengan siswa tentang hal tersebut. Berusahalah mengetahui siapa di antara mereka yang pernah menggunakannya dan siapa yang belum, bagaimana perasaan dan sikap mereka. Anda juga sebaiknay berbagi pengalaman dengan mereka.
  2. Untuk mengakrabkan dan memberi pengalaman siswa dengan komputer, minta siswa bekerja di komputer secara berpasangan. Melalui kerja berpasangan ini, usahakan bahwa siswa yang kurang berpengalaman bekerja dengan yang lebih berpasangan.
  3. Untuk setiap kegiatan komputer yang baru, mintalah mereka untuk bekerja secara berpasangan sehingga mereka dapat saling membantu.
  4. Pertimbangkan bagaimana cara memperoleh materi untuk siswa Anda.
  5. Pertimbangkan bagaimana Anda menggunakan materi tersebut untuk kegiatan komputer.
  6. Sesuai dengan tingkat keterampilan komputer siswa, Anda dapat memberikan perlakukan tertentu dengan level pelajaran berbeda pada kelompok siswa yang berbeda.

3.    Komputer dan Guru

Peranan guru sangat penting dalam menyelenggarakan pengajaran berbantuan komputer. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa program pembelajaran melaui komputer dibagai ke dalam dua bentuk, yakni dedicated and authoring programs. Dedicated program adalah program pembelajaran yang dapat langsung digunakan tanpa harus memanipulasinya. Sementara, authoring program adalah program yang dapat digunakan untuk memasukkan materi pembelajaran sesuai dengan modus yang telah dirancang untuk itu, sehingga memungkinkan guru untuk membuat materinya sendiri berdasarkan tujuan yang ingin dicapai.

Dalam konteks pembelajaran berbantuan komputer, komputer sangat bermanfaat untuk mendukung peranan guru dalam proses belajar mengajar, namun tidak dapat menggantikan guru, yang kehadirannya penting dan senantiasa dibutuhkan sebagai pembimbing dan mediator. Davis dan Shade (1994) mengemukakan bahwa dalam kelas berbantuan komputer guru memiliki peran sebagai instruktur, pelatih atau fasilitator, dan kritikus/evaluator. Peran instruktur diperlukan dari seorang guru terutama untuk mengakrabkan fasilitas komputer berikut perangkat lunaknya kepada siswa, dan senantiasa mendorong siswa untuk mengeksplorasi materi yang ada dalam sistem. Dengan pengalaman menggunakan komputer yang telah dimiliki, secara bertahap siswa akan lebih mandiri dalam menyelesaikan tugas. Dalam kondisi seperti ini, peran guru sebagai fasilitator sangat dibutuhkan untuk membantu siswa kapan saja selama proses pembelajaran berlangsung. Peran guru sebagai kritikus dibutuhkan sebelum pembelajaran berbantuan komputer dilaksanakan. Dalam hal ini, guru dibutuhkan menyeleksi perangkat lunak yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dan diyakini dapat meningkatkan mutu pembelajaran.

Sebagaimana dalam pengajaran tatap muka dalam kelas konvensional, penggunaan komputer juga memerlukan guru untuk merumuskan tujuan pembelajaran.

Berdasarkan tujuan ini, guru harus mengidentifikasi dan menyeleksi materi dalam bentuk piranti lunak. Selain itu, guru juga perlu menentukan kegiatan yang harus dikerjakan siswa, baik sebelum kegiatan komputer, selama kegiatan komputer, maupun setelah kegiatan komputer (kalau ada). Evaluasi dapat pula diberikan dalam bentuk konvensional. Namun, sebagian piranti lunak pembelajaran disertai dengan instant feedback sehingga siswa dapat memperoleh umpan balik dari tugas computer yang dikerjakannya. Ini juga berarti bahwa guru hanya diperlukan untuk memonitor kegiatan dan hasil yang diperoleh.

Dalam kaitan dengan peranan guru di atas, UNESCO (2004) menggariskan bahwa

TIK memungkinkan terjadinya model pembelajaran baru yang dapat mengubah peran tradisional guru secara signifikan. Dengan kelebihan TIK, diidentifikasi bahwa ada beberapa peran baru guru, yakni perancang instruksional, pelatih, kolaborator, koordinator tim, penasihat, dan ahli monitoring dan assesmen. Perubahan-perubahan ini terjadi karena kelebihan TIK dalam beberapa hal, antara lain: (i) sumber belajar yang dapat dibagi (penggunaan video dan materi berbasis internet), (ii) ruang belajar yang digunakan bersama, yang dimungkinkan dengan jaringan komputer di sekolah, (iii) terjadinya pembelajaran kolaboratif yang dimungkinkan dengan adanyako munikasi berbatuan komputer, (iv) perubahan pembelajaran ke arah yang lebih otonomi yang dimungkinkan dengan pembelajaran secara mandiri melalui perangkat TIK.

4.     Beberapa Perangkat Lunak/Fasilitas TIK untuk Tujuan Media Pembelajaran

        a.   CD-ROM

              CD ROM adalah disket optik berdiameter 4.75 inchi yang digunakan sebagai media untuk menyimpan informasi dalam jumlah yang cukup besar (+ 600 MB), yang dapat diakses dan dibaca di monitor, atau dicetak melalui printer. CD dapat menyimpan informasi dalam berbagai bentuk, seperti: teks, gambar, presentasi, slide, audio dan video. Dalam kaitannya dengan pembelajaran, sudah cukup banyak materi pembelajaran yang disimpan dalam bentuk CD-Rom dan mudah didapatkan di pasaran. Kontennya juga cukup bervariasi dari berbagai bidang ilmu. Penyajian materi pada umumnya lebih interaktif. Pustekom Jakarta telah banyak memproduksi CD pembelajaran dan didistribusikan ke sekolah-sekolah.

b.    Internet

Internet adalah jaringan internasional yang mengkoneksikan ribuan bahkan jutaan komputer dengan muatan isi yang beragam, seperti pendidikan, pemerintahan, bisnis, budaya, dan teknologi. Jaringan internet ini memungkinkan individu berinteraksi dan berkomunikasi dengan yang lainnya melalui komputer dari berbagai belahan dunia dengan biaya yang cukup terjangkau. Beberapa fasilitas dan aktivitas internet yang dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran adalah email, forum diskusi, web browsing, dan chatroom. Email adalah fasilitas internet yang digunakan untuk berkorespondensi, mengirim dan menerima surat, gambar, suara, dan video. Dengan fasilitas ini, guru dapat mengirim tugas kepada siswa, dan sebaliknya siswa dan menyetor tugasnya. Bahkan pada tingkat perguruan tinggi, mahasiswa memanfaatkan fasilitas ini untuk mengkonsultasikan tugas akhirnya dan koreksi dapat secara langsung dilakukan oleh dosen pada naskah tugas akhir yang dikirim oleh mahasiswanya.

Guru atau siswa dapat pula menggunakan fasilitas ini untuk mengikuti milis

(mailing list) sesuai bidang yang diminati, misalnya budaya, teknologi informasi, dan sains.

Web browsing adalah kegiatan penelusuran sumber informasi yang dibutuhkan. Perlu diketahui bahwa saat ini sumber informasi yang terkaya dan terkini adalah internet. Beberapa bentuk sumber informasi yang dapat diperoleh antara lain adalah buku elektronik (e-book), jurnal, majalah, surat kabar, artikel, materi pembelajaran siap pakai, rencana pembelajaran, gambar, suara, video, dan laporan hasil penelitian. Dengan kata lain, internet dapat dianggap sebagai perpustakaan elektronik (e-library). Oleh sebab itu, kehadiran internet ini seyogyanya dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh guru untuk memperkaya sumber bahan ajarnya. Ada dua cara yang umum orang lakukan dalam menelusur informasi di internet, yakni memasukkan alamat situs pada address bar atau memasukkan kata kunci pada bagian pencarian search engine. Berikut ini adalah beberapa alamat situs search engine dan situs web tertentu.

· http://www.yahoo.com;

· http://www.google.co.id;

· http://www.classroom.com;

· http://www.englishpractice.com

  1. B.        Sistem Manajemen Pembelajaran Berbasis TIK

Sistem manajemen pembelajaran yang dikenal dengan istilah learning management System (LMS) merupakan perangkat lunak dalam bentuk portal pembelajaran. Pada umumnya LMS menyediakan ruang bagi guru untuk menyimpan materi (upload) berikut tugas yang diberikan kepada siswa. Pada umumnya, LMS membutuhkan pengguna untuk login sesuai dengan kapasitasnya, admin, guru, siswa, atau tamu. Beberapa LMS menyediakan fasilitas untuk aktivitas chat, forum diskusi, pemberian nilai, dan jurnal. LMS ditawarkan dalam bentuk open source (sumber bebas terbuka) yang biasanya diperoleh dengan gratis dan non-open source (sumber non bebas terbuka) yang biasanya harus dibeli. Moodle adalah salah satu contoh LMS open source dan Web-CT adalah salah satu contoh LMS non-open source.

Authoring Program adalah template yang digunakan untuk mengembangkan bahan ajar. Program ini dapat dalam bentuk freeware (perangkat gratis) atau paket yang harus dibeli. Keuntungannya adalah guru dapat mengembangkan materinya sendiri sesuai kebutuhan dan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Ada beberapa freeware yang dapat di-download dari internet, di antaranya Hot Potatoes.

Program Hot Potatoes cocok digunakan untuk pelajaran bahasa. Program ini memiliki enam alat pengembang materi yang memungkinkan kita membuat latihan-latihan interaktif berbasis web. Keenam alat tersebut adalah JBC (alat membuat latihan pilihan ganda yangdapat disertai dengan teks bacaan), JQuiz (alat membuat latihan kuis yang membutuhkan siswa menuliskan jawaban), JMix (alat membuat latihan jumble sentence), Jcross (alat membuat latihan teka-teki silang), JMatch (alat membuat latihan mamadankan/menjodohkan), Jcloze (alat membuat latihan cloze di mana siswa mengisikan kata pada tempat yang disediakan). Latihan-latihan tersebut menggunakan JavaScript untuk membuatnya interaktif, dan dapat dijalankan pada Netscape Navigator dan Internet Explorer versi 4 ke atas baik melalui sistem operasi Windows maupun Macintosh.

Meskipun menggunakan JavaScript, pengguna tidak perlu mengetahui JavaScript untuk menggunakan program tersebut. Yang dibutuhkan adalah pengguna memasukkan data dalam bentuk teks, pertanyaan, jawaban, dan sebagainya, selanjutnya program tersebut akan memprosesnya dalam bentuk laman web.

Kalau pengguna memiliki situs web, maka latihan-latihan tadi dapat dimasukkan ke situs web tersebut.

TV Edukasi

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berbasis kompetensi membawa pergeseran sistem pembelajaran menjadi berorientasi pada siswa. Dalam kondisi seperti ini, siswa harus lebih aktif mencari informasi dari berbagai sumber, sehingga pengetahuan siswa menjadi lebih luas dan beragam. Untuk itu, Departemen Pendidikan Nasional telah menyediakan salah satu sumber belajar dalam bentuk siaran televisi pendidikan, yang diberi nama Televisi Edukasi (TVE). Tujuannya adalah Memberikan layanan pendidikan berkualitas untuk menunjang tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu, Televisi Edukasi adalah medium yang sangat bagus untuk membagi informasi dan bahan pendidikan kepada masyarakat secara luas.

Siaran TVE ini dikelola oleh Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan

(Pustekkom Depdiknas) Jakarta. TVE diresmikan oleh Menteri Pendidikan Nasional

saat itu Prof. Dr. Malik Fajar dan mulai siaran pada tanggal 12 Oktober 2004. Program yang disiarkan oleh TVE adalah progran formal, program non formal, program informal serta informasi kebijakan-kebijakan pendidikan dan informasi lainnya. Sasaran penontonnya adalah Peserta didik dari semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan, Praktisi pendidikan, dan Masyarakat.

Untuk menyesuaikan jadwal tayangan acara yang dibutuhkan dengan jadwal pelajaran atau penugasan kepada siswa, ada baiknya kalau membuka jadwal siaran TVE pada situs web TVE dan mencetaknya untuk ditempel pada papan pengumuman sekolah. Alamat situsnya adalah http://www.tvedukasi.org/frame.php.

TV Edukasi ini memiliki program unggulan yang perlu diketahui oleh pihak manajemen sekolah dan guru untuk dapat memanfaatkannya seoptimal mungkin. Berikut ini disajikan program-program ungulan yang di-download dari situs web resmi TV Edukasi berikut penjelasan singkat masing- masing.

  1. C.        Pengelolaan TIK

Keputusan untuk menggunakan TIK dalam menunjang aktivitas di sekolah harus didasarkan pada pertimbangan kemanfaatan dan bukan karena tidak mau dianggap ketinggalan. Berikut ini adalah beberapa pertimbangan yang disarankan UNESCO (2004), yakni (i) penggunaan komputer untuk tujuan perluasan akses, (ii) penyediaan bantuan teknis, (iii) penetapan tujuan yang efektif dalam penggunaan TIK di sekolah, (iv) memahami peran baru guru di kelas, (v) menyediakan kesempatan pengembangan profesional secara kontinyu, (vi) melatih guru dengan tingkat keterampilan yang berbeda, (vii) memberikan insentif kepada guru yang menggunakan TIK, dan (viii) mengupayakan kesinambungan pembiayaan.

Sejalan dengan uraian di atas, di bawah ini dijelaskan beberapa aspek yang juga perlu

dipertimbangkan dalam pengelolaan TIK di sekolah.

1.    Keterampilan TIK

Untuk dapat memaksimalkan pemanfaatan TIK di sekolah, kepala sekolah harus menunjuk penanggung jawab/koordinator TIK yang memiliki keterampilan TIK yang memadai. Hal ini penting dipertimbangkan karena banyaknya tugas penanggung jawab tersebut yang harus dilaksanakan, antara lain:

  1. Membuat dan/atau mengimplementasikan dan/atau mengkoordinasikan rencana penggunaan TIK;
  2. Mengajarkan pelajaran TIK;
  3. Membantu guru lain untuk memasukkan TIK dalam rencana tugas mereka;
  4. Membantu guru lain untuk mengidentifikasi peluang untuk menggunaka TIK; Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan TIK staf;
  5. Mengorganisasi dan/atau menjalankan dan/atau mengkoordinasikan penggunaan TIK;
  6. Mendiseminasikan praktek yang baik dalam pengajaran TIK;
  7. Memonitor penggunaan TIK;
  8. Bertanggung jawab atas pelaporan kemajuan siswa dalam TIK;
  9. Bertanggung jawab atas lisensi perangkat lunak;
  10. Mengelola anggaran TIK (belanja barang)
  11. Memberi saran kepada kepala sekolah tentang pembelian perangkat keras dan
  12. lunak serta infrastruktur lainnya;
  13. Memelihara perangkat keras dan fasilitas terkait lainnya;
  14. Mengatur tehnisi;
  15. Mengikuti perkembangan TIK, khususnya untuk manajemen sekolah dan
  16. pembelajaran;
  17. Mengatur penggunaan internet, jika ada, bagi staf dan siswa;
  18. Membuat presentasi kepada manajemen sekolah, komite sekolah, orang tua, staf pengajar, dan pemerintah,
  19. Merekomendasikan sistem komputer yang cocok digunakan;

2.    Buku Panduan TIK

Tujuan dari buku panduan ini adalah untuk memberi informasi kepada staf tentang prosodur penggunaan TIK. Buku pandauan ini menjadi bukti bahwa penanggung jawab TIK telah mencoba mengembangkan kebijakan, prosedur dan

sistem yang relevan. Idealnya, buku panduan tersebut tidak lebih dari 20 halaman, dengan spasi ganda dan dengan daftar isi. Buku panduan tersebut antara lain memuat hal-hal berikut:

  1. Pernyataan tentang peranan TIK di sekolah, termasuk visi misi;
  2. Kebijakan TIK;
  3. Staf yang mengajarkannya;
  4. Petunjuk terminologi yang digunakan – sehingga semua guru TI menggunakan terminologi yang sama, dan agar yang lainnya mengetahui apa yang dibahas;
  5. Pedoman umum tentang penggunaan TIK, baik dalam menunjang manajemen sekolah maupun pembelajaran;
  6. Ringkasan kurikulum mengenai TIK; sehingga orang yang membutuhkan dokumen tersebut dengan mudah dapat memperolehnya;
  7. Semua prosedur, misalnya bagaimana membukukan peralatan, dan bahkan bagaimana membuka komputer:
  8. Petunjuk fasilitas, termasuk pernyataan seperti ”jika Anda mempunyai kelompok besar, misalnya lebih dari 20, gunakan ruang x, sebaliknya gunakan ruang ”y”, jika kurang dari 20;
  9. Kapan fasilitas komputer tersedia;
  10. Bagaimana melaporkan gangguan perangkat keras dan perangkat lunak;

3.    Sekuriti Perangkat Keras dan Lunak

Perangkat TIK membutuhkan investasi yang cukup mahal sehingga perlu dijamin keamanannya, baik dari segi kerusakan maupun pencurian. Untuk itu, perlu ada tindakan pengamanan yang dilakukan pihak manajemen sekolah, antara lain:

  1. Yakinkan bahwa sekolah memiliki inventarisasi yang mutakhir;
  2. Sekolah harus memiliki kebijakan pengamanan perangkat TIK, seperti apakah ada aturan bahwa setiap item peralatan harus diberi tanda security khusus; Mendiskusikan sekuriti dengan supervisor lapangan; Mengunci dengan baut semua computer dan printer;
  3. Memasang alarm pada setiap peralatan atau di ruangan, bila dana memungkinkan;
  4. Mengamankan semua mouse dan keyboard;
  5. Membubuhkan penanda pada setiap item dengan penanda khusus yang hanya bisa dibaca melalui lampu ultra-violet – disarankan menulis nama sekolah;
  6. Yakinkan pintu dan jendela terkunci, khususnya pada jalan keluar-masuk kantor, dan khususnya pada tempat yang dekat akesesnya dengan jalanan atau tempat parkir;
  7. Gunakan anti virus dan senantiasa update untuk menghindari serangan virus yang bisa merusak file, sistem, dan bahkan perngkat keras komputer.
  8. Hindarkan terjadinya pencurian atau penyalahgunaan data yang ada pada sistem dengan menjaga kerahasiaan selalu memperbaharui user name dan password.

4.     Pajangan Bermanfaat

Banyak ruangan komputer yang dihiasi dengan poster dengan pertimbangan supaya tampaknya menarik tanpa memperhitungkan kemanfaatannya.

Pemasangan poster dimaksudkan untuk memberi manfaat dan lebih memudahkan peranan manajemen TIK. Contoh poster yang dimaksud adalah:

a.    Aturan prilaku

b.    Instruksi singkat, seperti “simpan pekerjaan Anda setiap 10 menit”;

c.    Petunjuk software;

Bila sekolah memutuskan membuat poster, usahakan huruf yang digunakan cukup besar untuk dapat terbaca dari semua sudut ruangan. Sebaiknya poster dibuat untuk setiap program utama yang digunakan, yang memuat informasi atau instruksi yang dibutuhkan. Instruksi sebaiknya dinyatakan dalam bentuk positif dan sedapat mungkin menghindari bentuk negatif. Misalnya, “Masuklah dengan tenang” biasanya lebih efektif daripada “Jangan masuk dengan ribut”. Ada juga baiknya memajangkan contoh pekerjaan siswa. Hal ini bermanfaat untuk meningkatkan penghargaan diri siswa sekaligus juga menunjukkan kepada yang lainnya tentang apa yang bisa dilakukan dengan menggunakan komputer.

5.    Pemeliharaan dan rutinitas

Isu pemeliharaan dan rutinitas penting untuk menjaga perangkat tetap awet. Setiap individu yang sering berinteraksi dengan perangkat-perangkat TIK di sekolah perlu mengetahui dan menerapkan mekanisme pemeliharaan dan rutinitas. Untuk itu,  sekolah sebaiknya melakukan pelatihan atau sekurangkurangnyasosialisasi baik kepada guru maupun staf administrasi. Pelatihan atau sosialisasi tersebut antara lain mencakup:

  1. membuka dan menutup program;
  2. tata cara pencetakan;
  3. dasar-dasar troubleshooting;
  4. aturan dalam ruangan;
  5. pemeliharaan peralatan;
  6. isu keamanan;
  7. aturan memasuki dan meninggalkan ruangan

6.    Faktor manajemen yang mempengaruhi prestasi dalam TIK

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi yang tentunya membutuhkan pengelolaan yang baik. Faktor-faktor ini sangat ditentukan oleh penanggung jawab TIK yang ditugaskan oleh manajemen sekolah. Faktor-faktor yang dimaksud adalah bahwa penanggung jawab TIK harus:

  1. mempunyai gagasan yang jelas tentang posisi TIK dalam kurikulum, dan mampu mengkomunikasikannya kepada yang lainnya;
  2. Mempunyai pendekatan yang jelas dalam upaya meningkatkan prestasi;
  3. cukup fleksibel untuk memberi kesempatan kepada yang lainnya untuk menyumbangkan gagasannya;
  4. memiliki harapan yang tinggi terhadap siswa dan staf;
  5. menjadi ahli dalam mata pelajaran tersebut, yang berarti bahwa mereka memiliki pemahaman yang jelas tentang TIK.

7.    Mengelola rekaman pekerjaan yang telah dilakukan siswa

TIK dapat membantu pengarsipan rekaman untuk tujuan penilaian. Rekaman siswa dapat disimpan dalam bentuk diari, di mana siswa merekam kegiatan TIK yang dia telah lakukan setiap harinya. Keuntungan pendekatan ini adalah bahwa:

(i) siswa menyelesaikan sendiri diari tersebut, yang berarti pekerjaan untuk memeriksa tugas tertulis di kertas berkurang; (ii) dengan melihat diari tersebut, misalnya tiap dua minggu atau satu bulan, guru akan memperoleh gambaran tentang kuantitas dan kualitas kegiatan TIK yang siswa lakukan. Kekurangannya adalah bahwa: (i) sulit atau membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan data yang ada dalam diari tersaebut; (ii) siswa bisa saja kehilangan diari; dan (iii) jika Anda menyimpan diari siswa, yang menjadi masalah adalah tempat menyimpannya, dan mereka akan kehilangan kesempatan untuk menggunakannya lagi dengan segera; Pendekatan lainnya adalah dengan menyimpan lembar pencatatan untuk setiap siswa, di mana guru memberi tanda tik dan menandai kotak yang sesuai ketika siswa telah menyelesaikan pekerjaan tertentu. Keuntungan pendekatan ini adalah bahwa: (i) guru hanya memiliki satu lembar persiswa; (ii) guru dapat melihat secara sepintas berapa banyak pekerjaan yang telah dikerjakan. Kekurangannya adalah bahwa: (i) penggunaan lembaran seperti itu dapat membuat siswa hanya bertujuan untuk memperoleh tanda tik pada lembarannya, dan mengesampingkan pemahaman konsep dan keterampilan yang diajarkan. (ii) penyimpanan dapat menjadi masalah; dan (iii) Masih sulit untuk mengumpulkan informasi.

Satu cara untuk mengatasi kekurangan terakhir adalah membuat pangkalan data

atau spreadsheet untuk merekam pekerjaan yang telah dibuat siswa. Dengan menggunakan spreadsheet, misalnya, memungkinkan Anda memasukkan rumus yang akan menghitung berapa banyak unit yang telah diselesaikan siswa.

Penggunaan sistem ini akan menghemat waktu dan biaya karena Anda bias menggunakan spreadsheet yang sama dengan nama siswa yang berbeda, untuk jangka waktu yang lama ke depan.

Jenis rekaman yang ketiga adalah front cover sheet untuk setiap unit yang telah diselesaikan siswa. Ini dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk mengomentari pekerjaan siswa. Keuntungan sistem ini adalah sebagai berikut: (i)

mendorong staf untuk memberikan komentar dan tidak hanya memberi tanda tik atau memberi nilai; (ii) dapat memberikan umpan balik kepada siswa.

8.    Manajemen Infrastruktur

Manajemen infrastruktur adalah hal penting untuk menjamin kesuksesan pengadaan, pemasangan, dan pemanfaatan infrastruktur. Aturan perlu dibuat untuk selanjutnya dijadikan sebagai panduan yang dapat menuntun untuk:

  1. menyusun agenda yang memuat apa yang seharusnya terjadi, jadwal, dan siapa yang bertanggung jawab;
  2. senantiasa menginformasikan kepada setiap individu yang terkait – khususnya ketika terjadi kesalahan;
  3. mengawasi pengeluaran – tapi juga menemukan sefleksibel bagaimana kendala anggaran tersebut;
  4. tidak lupa memasukkan anggaran-anggaran tersembunyi, seperti biaya angkutan.
  5. Tetap menyediakan anggaran untuk tujuan biaya tak terduga;
  6. Ketika membeli barang dan jasa, sempatkan untuk mengecek kiriman sebelum melakukan pembayaran;
  7. Rekaman harus selalu dimutakhirkan, dan usahakan dapat diakses oleh yang lainnya sehingga kalau penanggung jawab TIK mengambil cuti atau sakit, pekerjaannya masih bisa dilimpahkan ke yang lainnya.
  8. Menjamin sistem pengarsifan secara logis dan sistematis.

9.    Manajemen Keuangan

Keuangan dalam bidang TIK juga penting dikelola dengan baik karena biaya pemeliharaan dan operasionalnya cukup mahal. Bagian ini memuat strategi penghematan biaya sehingga investasi yang ada membuahkan hasil yang maksimal. Menggunakan peralatan yang lebih tua: Peralatan yang lebih tua tapi masih berfungsi sebaiknya masih tetap digunakan. Ada beberapa pertimbangan yang perlu diketahui dalam hal pendistribusian sumberdaya yang ada dan apa yang harus dilakukan dengan peralatan tersebut.

  1. Untuk tujuan pembelajaran TI, peralatan yang dipasang sebaiknya yang paling mutakhir, supaya dapat digunakan semaksimal mungkin, baik dari segi intensitas maupun tujuannya.
  2. Penambahan jumlah unit komputer terpasang sebaiknya tidak membuat komputer lama yang sebelumnya sudah terpasang tidak digunakan lagi.
  3. Perlu juga dipertimbangkan bahwa peralatan lama mungkin lebih cocok digunakan pada bagian tertentu atau tujuan tertentu. Misalnya, komputer tua tersebut digunakan sebagai print server pada jaringan computer yang sudah ada.
  4. Komputer lama mungkin masih menarik bagi staf tertentu untuk dia gunakan di ruangannya sendiri untuk tujuan administrasi;

Sebaliknya, ada juga beberapa kekurangan menggunakan komputer tua, yakni peralatan tersebut tampak usang, sehingga mungkin saja membuat siswa tidak tertarik untuk menggunakannya; dan fungsi dan fasilitas yang dimiliki perangkat

tersebut mungkin tidak dapat memenuhi kebutuhan pembelajaran di sekolah;

 

10.   Praktek yang baik dalam tugas administrasi

Praktek yang baik dalam tugas administrasi haruslah menjadi salah satu indikator

penting dalam mewujudkan manajemen sekolah yang efektif. Beberapa konsep yang perlu diketahui dalam kaitan ini adalah sebagai berikut:

  1. Pengetikan data harus dilakukan dengan cermat tapi tetap memperhitungkan kecepatan, dan tingkat akurasi yang tinggi, sehingga tidak terjadi kesalahan yang berarti.
  2. Dokumen diarsipkan dengan baik untuk menjaga jangan sampai hilang;
  3. Transfer data efisien;
  4. Template sebaiknya disiapkan;
  5. Untuk tugas tertentu, proses otomasi perlu dijalankan;
  6. Dokumen-dokumen yang berkaitan sebaiknya dikoneksikan satu sama lain dengan membuat link.
  7. Fasilitas mail-merge sebaiknya difungsikan, khususnya untuk tugas-tugas administrasi.

11.  Pengelolaan Pengunaan Internet

Penggunaan internet dalam berbagai macam koneksi membutuhkan biaya yang cukup bervariasi berdasarkan provider yang dilanggan. Penggunaan internet pada lembaga tentu akan berpengaruh juga pada biaya manajemen. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, yakni:

  1. Mengelola penggunaan komputer yang terkoneksi dengan internet. Koneksi internet hanya kepada satu unit komputer akan terasa sangat mahal dibandingkan dengan kalau dibagi kepada beberapa unit komputer.
  2. Mempertimbangkan penggunaan teknologi yang sesuai untuk mengkoneksikan sekolah dengan internet.
  3. Menjamin adanya nilai tambah yang diberikan yang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan;
  4. Mengontrol penggunaan fasilitas internet, seperti email dan website, supaya tidak menimbulkan biaya tambahan, baik oleh staf maupun siswa. Perlu diketahui bahwa sejumlah situs membebankan biaya untuk bisa diakses. Bila menggunakan sistem dial-up, lama koneksi dengan internet perlu dikontrol supaya tidak melewati batas kemampuan keuangan sekolah yang dialokasikan untuk koneksi internet ini.
  5. Mencegah siswa dari penggunaan chat dan email yang tidak penting.

                                            

  1. D.       Pengelolaan Pembelajaran Berbasis TIK

Pengelolaan kelas menitik tekankan pada aspek pengaturan (management) lingkungan, berbeda dengan pembelajaran (instruction) yang lebih menekankan aspek mengelola atau memproses materi pelajaran. Menurut Raka Joni, pengelolaan kelas adalah mengkondisikan kelas yang optimal bagi terjadinya proses belajar, yang meliputi pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif. Pengaturan kelas mencakup pengaturan peserta didik dan fasilitas. ICT sendiri termasuk dalam pengaturan fasilitas untuk menunjang iklim konduksif bagi PBM di kelas. Baik iklim kognitif, afektif, dan skill.

Iklim kognitif yang dicapai dari kelas berbasis ICT adalah pemahaman terhadap materi karena siswa diberikan kesempatan bereksplorasi dengan ICT untuk memecahkan masalah baik secara sintesis maupun analisis. Iklim afektif yang dicapai dari kelas berbasis ICT adalah akomodasi siswa lambat dan cepat secara adil. Siswa yang lambat tidak akan menjadi bahan olok-olokan temannya, karena keterlambatannya, karena ICT memiliki kesabaran dalam menerima pengulangan-pengulangan sesuai kehendak pengguna (user). Begitu pun siswa cepat, tidak akan merasa kurang, karena ICT mampu melayani semua rasa ingin tahunya dengan kecepatan sesuai permintaan pengguna (user). Adapun iklim skill adalah yang paling dominan tercapai. Penggunaan ICT menciptakan skill menulis, berkomunikasi, dan mengakses pengetahuan dengan cepat, mudah, dan tepat.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam pengelolaan kelas berbasis ICT, diantaranya adalah:

  1. Penggunaan ICT sebaiknya dibagi dalam tiga katagori, yaitu one laptop for  all students, one student one laptop, dan one laptop for four students.
  2. Pengunaan ICT bersifat “one laptop for all student” digunakan pada saat guru memberikan konsep dasar yang harus dikuasai siswa secara menyeluruh. Adapun one student one laptop dan one laptop for four students digunakan untuk tahap pengembangan konsep, yang memerlukan aktifitas eksplorasi atau pemecahan masalah.
  3. Penggunaan fasilitas hendaknya tidak terlalu sering bersifat individual, yaitu “one student one laptop“, tetapi sesekali harus diberikan fasilitas bersifat kerjasama, “one laptop for four student“. Ini semua sesuai dengan hakekat belajar aktif, menurut Vygotsky [1896-1934] (1962), salah satu pengagas konstruktivisme sosial, yang terkenal dengan teori “Zone of Proximal Development” (ZPD). “Proximal” dalam bahasa sederhana bermakna “next“. Vygotsky mengamati, ketika anak diberi tugas untuk dirinya sediri, mereka akan bekerja sebaik-baiknya ketika mereka bekerjasama. Selanjutnya Vygotsky menyatakan, setiap manusia mempunyai potensi, dan potensi tersebut dapat teraktualisasi dengan ketuntasan belajar, tetapi di antara potensi dan aktualisasi terdapat wilayah abu-abu. “Guru berkewajiban menjadikan wilayah abu-abu ini dapat teraktualisasi, caranya dengan belajar kelompok. Dalam bahasa yang lebih umum, terdapat tiga wilayah “cannot yet do”,can do with help“, and “can do alone“. ZPD adalah wilayah “can do with help”, wilayah ini bukan wilayah yang permanen, kuncinya adalah menarik pembelajar menjadi dari zona tersebut, dengan cara bekerjasama.
  4. Guru harus menetapkan standar operasional prosedur (SOP) dalam penggunaan ICT dikelas. SOP ini mengajarkan siswa akan pentingnya tanggung jawab.
  5. Guru merancang kelas yang berbasis ICT yang bersifat dinamis sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Harus dibedakan tempat duduk siswa ketika kebutuhannya one laptop for all students, one student one laptop, dan one laptop for four students.

 

 

 

Pengelolaan pembelajaran berbasis TIK terdiri dari :

  1. Perencanan pembelajaran meliputi :
    1. penyediaan fasilitas jaringan komunikasi data,
    2. pangkalan data,
    3. media pembelajaran dan akses publik oleh sekolah

sedangkan guru perlu :

  1. menentukan materi yang dapat disampaikan dengan media TIK;
  2. menetapkan kegiatan tatap muka dan kegiatan online;
  3. menetapkan alat pembelajaran TIK; sumber belajar meliputi buku-buku elektronik, alamat situs web, materi presentasi, materi multimedia;
  4. menetapkan metode penilaian tes atau non tes.
  5. Pelaksanaan Pembelajaran dilakukan dalam kegiatan tatap muka melalui :
    1. tahapan penjelasan proses belajar;
    2. tahap eksplorasi sumber-sumber belajar;
    3. tahap kolaborasi berbagai sumber belajar untuk memperoleh pemahaman yang utuh;
    4. tahap refleksi mengambil kesimpulan dari topik yang sedang dipelajari,
    5. dan kegiatan online melalui LMS di luar kelas melalui tahapan mempelajari petunjuk belajar; mempelajari materi tutorial pada halaman web; mengikuti diskusi dan konsultasi online; mengerjakan tugas-tugas .

3.    Penilaian

Penilaian metode tes dan non tes yang dapat dilakukan dalam kegiatan tatap muka dan online dalam penilaian formatif dan sumatif. Metode tes dilakukan menggunakan tes interaktif yang dilengkapi dengan saran-saran dari hasil pekerjaan siswa. Metode non tes meliputi pemberian tugas mengembangkan topik-topik pembelajaran, menyusun materi diskusi, mengumpulkan materi pelajaran dari internet, forum online, membuat ringkasan dari materi secara online, atau membuat karya secara online.

 

 

BAB IV PENUTUP

 

Pemanfaatan TIK dalam dunia pendidikan membutuhkan komitmen kuat dari semua pihak yang terkait. Pada tingkat sekolah, pemanfaatan TIK sekurang-kurangnya diupayakan untuk mendukung terciptanya manajemen sekolah yang efektif dan terjadinya pembelajaran yang menyenangkan dengan mutu yang lebih baik. Untuk itu, komitmen kepala sekolah, guru, dan staf administrasi sangat dibutuhkan untuk dapat membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan untuk dapat menggunakan TIK, khususnya perangkat lunak yang digunakan di sekolah.

Sekolah sebagai institusi pencetak generasi yang hidup dimasa mendatang harus mempunyai keperdulian terhadap perkembangan yang terjadi. Jika tidak, maka anak-anak yang kita didik akan tertinggal dengan perkembangan zaman. Karena perkembangan informasi dan komunikasi ini tidak mempunyai toleransi, pilihannya hanya dua, yaitu mampu beradaptasi dan mengadopsi atau tertinggal ke belakang.

Guru pada abad ini dan abad selanjutnya ditantang untuk melakukan akselerasi terhadap perkembangan informasi dan komunikasi. Pembelajaran di kelas dan pengelolaan kelas, pada abad ini harus disesuaikan dengan standar kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, atau yang lebih dikenal dengan ICT (information comunication technology). Bagaimana mengelola kelas berbasis ICT yang akan menunjang daya adaptasi dan adopsi siswa terhadap kemajuan teknologi informasi dan komunikasi? Hal inilah yang akan dicoba diuraikan pada paparan di bawah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

http://www.ericdigests.org/1995-2/isolate.htm

 

UNESCO. 2004. Schoolnettoolkit. Bangkok: UNESCO Asia and Pacific Regional

                  Bureau for Education.

 

Ruud, P., 2000, “School improvement through ICT: Limitations and Possibilities”,

 

Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. 2007. Perangkat lunak.   

                 Wikimedia Foundation, Inc.

 

http://id.wikipedia.org/wiki/Perangkat_lunak

 

Noerdin. 2011, Penerapan Teknologi Informasi Dan Komunikasi (Tik) Dalam Pendidikan, Universitas Negeri Makasar

 

Kemdiknas.2011. Panduan Pengelolaan dan Pemanfaatan SchoolNet. Jakarta

 

Yusman.2011.  Pengelolaan Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi Dan Komunikasi Smk Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Tesis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

 

Contoh Laporan UKK/UAS SMP

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.   Latar Belakang

 

Laporan dalam  pelaksanaan Ujian Kenaikan Kelas  yang dilaksanakan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya atas hasil yang telah dicapai selama pelaksanaan sampai pelaporan ini bertujuan untuk memberikan gambaran secara umum tentang bagaimana pelaksanaan jalannya Ujian Kenaikan Kelas (UKK) di SMP Negeri 4 Lembang .

Laporan Ujian Kenaikan Kelas (UKK) berdasarkan hasil yang sebenarnya dalam pelaksanaan pengukuran kemampuan siswa itu sendiri dan sebagai sarana perbaikan pembelajaran kedepannya, dimana hasil Ujian Kenaikan Kelas (UKK) dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan pembelajaran  dengan hasil program pendidikan  setelah melalui proses penilaian  dan evaluasi  yang mengacu kepada standar pendidikan nasional, Ujian Kenaikan Kelas (UKK) dijadikan sarana untuk pemetaan setiap mata pelajaran dan sejauh mana penguasaan siswa dalam penerimaan input yang diberikan selama pembelajaran.

Dalam rangka pengembangan sistem dan alat pengujian  yang dilakukan sekolah dalam upaya melaksanakan semacam standarisasi perangkat Tes Hasil belajar pada siswa dengan Ujian Kenaikan Kelas (UKK).

Laporan kegiatan ini sebagai salah satu pertanggung jawaban kepada  masyarakat dan pemerintah.

Pentingnya laporan Ujian Kenaikan Kelas (UKK) sebagai laporan kinerja panitia selama pelaksanaan Ujian Kenaikan Kelas (UKK) untuk menentukan keberhasilan atau tidak suatu program belajar mengajar, maka perlunya laporan selama pelaksanaannya  sampai pada pelaporan kegiatan yang benar-benar sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.

 

  1. B.   Dasar/ Landasan Hukum
    1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945
    2. Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
    3. Peraturan Pemerintah No.19 tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional
      1. Kurikulum SMP NEGERI 4 Lembang Tahun Pelajaran 2010/2011
      2. Kalender Pendidikan Tahun Pelajaran 2010/2011

 

 

 

 

 

  1. C.   Maksud dan tujuan

 

Dalam rangka salah satu bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan Ujian Kenaikan Kelas (UKK) Tahun Pelajaran 2010-2011 bermaksud untuk :

  1. Memberikan gambaran  pelaksanaan Ujian Kenaikan Kelas (UKK)
  2. Memberikan hasil belajar siswa sampai pelaksanaan Ujian Kenaikan Kelas (UKK)
  3. Memberikan pemetaan hasil belajar siswa per kelas
    1. Sebagai  acuan dalam perbaikan program pembelajaran

 

Dan mempunyai tujuan :

  1. Sebagai pertanggung jawaban kepada masyarakat dan pemerintah
  2. Mengukur mutu pendidikan.
  3. Menganalisis hasil belajar siswa

 

 

  1. D.   Sistematika

 

Laporan kegiatan  Penyelenggaraan Ujian Kenaikan Kelas (UKK) Tahun Pelajaran 2010/2011 yang menjadikan acuan dalam setiap langkah pelaksanaannya disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut :

BAB I

:

PENDAHULUAN, menuangkan tentang latar belakang, Dasar/Landasan Hukum, Maksud dan Tujuan serta Sistematika Penyusunan Pelaporan Kegiatan UKK.

BAB II

:

PELAKSANAAN UKK, menuangkan tentang Peserta UKK, Penyelenggara UKK, Bahan Ujian, Pelaksanaan Ujian, Pemeriksaan Hasil Ujian, Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan, serta Jadwal Kegiatan UKK.

BAB III

:

PENGORGANISASIAN, menuangkan tentang Pengorganisasian Personil, dan Pengorganisasian Siswa.

BAB IV

:

PEMBIAYAAN, menuangkan tentang rencana sumber penerimaan dana dan perincian rencana pengeluarannya.

BAB V

:

PENUTUP, menuangkan tentang kesimpulan dari keseluruhan kegiatan selama UKK dan saran-saran bagi pelaksanaan kegiatan pendidikan secara keseluruhan agar tercapai hasil pendidikan semaksimal mungkin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PELAKSANAAN  UJIAN TENGAH SEMESTER GANJIL

TAHUN PELAJARAN 2010/2011

 

  1. A.   Peserta ujian yang mengikuti UKK

 

Peserta Ujian Kenaikan Kelas (UKK)) SMP Negeri 4 Lembang adalah siswa SMP NEGERI Lembang Kelas VII dan VIII.

Dalam pelaksanaan UKK, masih ada siswa yang tidak mengikuti salah satu mata pelajaran yang di ujikan, sehingga ada nilai yang tidak tercantum dalam laporan hasil belajarnya.

 

  1. B.   Panitia Ujian

Panitia Ujian Kenaikan Kelas (UKK)tahun Pelajaran 2010/2011 adalah panitia yang diberi tugas sesuai dengan keputusan dari kepala sekolah SMP NEGERI Lembang.

Dalam hal ini panitia telah bekerja sesuai dengan mekanisme yang telah ditentukan.

 

  1. C.   Bahan Ujian
  2. Mata Pelajaran Yang diujikan

Mata Pelajaran yang diujikan meliputi seluruh mata pelajaran yang diajarkan sampai semesters ganjil,sesuai dengan kurikulum yang dilaksanakan di sekolah.

Mata Pelajaran yang diujikan terlampir. Mata Pelajaran diujikan dalam Ujian Kenaikan Kelas (UKK), termasuk ujian praktik pada mata pelajaran Kesenian ,Penjaskes dan PLH. Jenis penilaian untuk masing-masing mata pelajaran dapat dilihat pada table berikut.

 

Daftar Mata Pelajaran UKK Ganjil

Tahun Pelajaran 2010/2011

No.

Mata Pelajaran

Ujian Tengah Semester

Ket

Praktik

Tertulis

1

Pendidikan Agama

-

V

 

2

Pend. Kewarganegaraan

-

V

 

3

Bahsa Indonesia

-

V

 

4

Matematika

-

V

 

5

Bahasa Inggris

-

V

 

6

IPA

-

V

 

7

IPS

-

V

 

8

Seni Budaya

V

-

 

9

Penjas Orkes

V

-

 

10

TIK

-

V

 

11

Bahasa dan Sastra Sunda

-

V

 

12

PLH

V

-

 

 

 

  1. Penilaian Muatan Lokal

Penilaian Muatan Lokal melalui ujian praktik dan/atau tertulis, atau melalui penilaian Tengah dengan mempertimbangkan hasil-hasil penilaian oleh pendidik sesuai karakteristik  mata pelajaran yang bersangkutan.

 

  1. Penyiapan Bahan Ujian Kenaikan Kelas (UKK)
    1. Standar Kompetensi Lulusan (SKL)

SKL Tahun Pelajaran 2010/2011 sesuai dari pokok bahasan KTSP, SK dan KD pada KTSP, dan Standar Isi.

  1. Penyusunan Naskah Soal

Penyusunan naskah soal UKK dilakukan oleh Guru Mata Pelajaran. Naskah soal setiap mata pelajaran dibuat dengan jumlah butir soal dan alokasi waktu sebagai berikut

Daftar Mata Pelajaran UKK Ganjil

Tahun Pelajaran 2010/2011

No.

Mata Pelajaran

Jumlah Butir

Alokasi Waktu

PG

Essay

1

Pendidikan Agama

20

5

2 JP

2

Pend. Kewarganegaraan

20

5

2 JP

3

Bahsa Indonesia

20

5

2 JP

4

Matematika

20

5

2 JP

5

Bahasa Inggris

20

5

2 JP

6

IPA

20

5

2 JP

7

IPS

20

5

2 JP

8

Seni Budaya

20

5

2 JP

9

Penjas Orkes

-

-

 

10

TIK

20

5

2 JP

11

Bahasa dan Sastra Sunda

20

5

2 JP

12

PLH

-

-

 

 

  1. Penggandaan dan Pendistribusian Bahan UKK

Penggandaan soal UKK merupakan tanggung jawab panitia

 

  1. Penyiapan Bahan Ujian Kenaikan Kelas (UKK)

Penyusunan Spesifikasi Soal/Kisi-Kisi

Spesifikasi soal atau kisi-kisi Ujian Kenaikan Kelas (UKK) disusun oleh masing-masing guru mata pelajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku di sekolah.

Spesifikasi soal ujian sekolah mengacu pada SKL mata pelajaran yang tertuang dalam permen No.23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan

Standar Kompetensi Lulusan dan spesifikasi soal untuk mata pelajaran lain yang merupakan ciri khas sekolah.

 

 

  1. D.   Pelaksanaan Ujian
  2. Waktu Pelaksanaan Ujian

Pelaksanaan Ujian Kenaikan Kelas (UKK)telah sesuaikan dengan jadwal jam yang telah ditentukan.

  1. Ruang Pelaksanaan Ujian

Ruang Pelaksanaan Ujian dimasing-masing ruang kelas yan g telah dibagi menjadi 10 ruangan

  1. Pengawasan Ujian

Pengawasan Ujian dilakukan oleh guru yang diberi tugas mengawas

 

  1. E.    Pemeriksaan Hasil Ujian
  2. Pemeriksaan Hasil Ujian Kenaikan Kelas (UKK)
    1. Pengumpulan Hasil Ujian Kenaikan Kelas (UKK)

Pengumpulan hasil Ujian Kenaikan Kelas (UKK)disesuikan dengan mekanisme yang tertera dalam juknis Ujian Kenaikan Kelas (UKK)Tahun Pelajaran 2010/2011.

  1. Pengolahan Hasil Ujian Kenaikan Kelas (UKK)

Pengolahan dilakukan oleh Panitia. (Hasil terlampir)

 

  1. Pemeriksaan  Hasil UJian Praktek
    1. Pemeriksaan dan Penilaian

Pemeriksaan dilakukan oleh guru dengan memperhatikan juknis UKK.

  1. Daftar Nilai Ujian

Daftar nilai hasil ujian diterbitkan oleh sekolah penyelenggara

 

  1. F.    Pengisian Hasil Laporan Belajar Siswa (Raport)
  2. Pengisian Raport
    1. Pengisian raport hanya dari nilai UKK , diakumulasikan dengan nilai harian( Ujian Harian) dan UTS.
    2. Nilai yang dimasukan berdasarkan rata-rata nilai, dan atau  hasil remedial.
    3. Pembagian Raport

Pembagian Raport telah  dilaksanakan pada tanggal 25 Juni 2011, dengan TMT 2 Juli 2011.

 

  1. G.   Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan
  2. Pemantauan dan Evaluasi

Pemantauan, evaluasi UKK dilakukan oleh  seluruh Wakasek SMPN 4 Lembang

  1. Pelaporan

Laporan penyelenggara ujian memuat informasi tentang penyiapan bahan, pelaksanaan ujian, penetapan batas lulus ujian, pengawas ujian, pemeriksaan ujian, permasalahan dan upaya pemecahannya serta laporan hasil ujian yang mencakup nilai ujian setiap siswa dan rata-rata nilai tiap mata pelajaran.

 

BAB III

PENGORGANISASIAN

  1. A.   Pengorganisasian Personil

 

  1. 1.      Susunan  Panitia

Susunan kepanitiaan Penyelenggaraan Ujian Kenaikan Kelas (UKK) Tahun Pelajaran 2010/2011 sebagai berikut :

 

No.

Nama

Jabatan Dalam Kepanitian

1

Dra. Nita Isaeni, S.Ip, M.Pd.

Penanggung Jawab

2

Ema Sukaesih, S.Pd.

Wakil Penanggung Jawab Ketua

3

N. Yuyun Yuniarti, S.Pd.

Ketua

4

Handani, S.Pd.

Sekretaris

5

Iyam Siti Mariyam, S.Pd.

Bendahara

6

Drs. sarju

Anggota

7

Ida Nur Farida, S.Pd.

Anggota

 

 

 

 

 

  1. 2.      Organigram/Struktur Organisasi

Struktur Organisasi penyelenggara Ujian Kenaikan Kelas (UKK)Tahun Pelajaran 2010/2011 adalah sebagai berikut :

 

Penanggung Jawab

Dra. Nita Isaeni, S.Ip., M.Pd.

 

ANGGOTA :

Drs. Sarju

Ida Nurfarida, S.Pd

BENDAHARA

Iyam Siti Mariyam, S.Pd.

SEKRETARIS

Handani, S.Pd.

KETUA

N. Yuyun Yuniarti, S.Pd.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                             

 

 

 

  1. 3.      Rincian Tugas Operasional Panitia Yang Telah Dilaksanakan
  • KETUA

N. Yuyun Yuniarti,S.Pd.

Tugas :

  1. Mengadakan rapat dinas
  2. Mendelegasikan tugas kepada anggota Panitia yang ditunjuk
  3. Menyampaikan informasi terkait
  4. Monitoring dan supervisi kegiatan
  5. Mempertanggung jawabkan seluruh kegiatan
  • SEKRETARIS

Handani, S.Pd.

Tugas :

  1. Menyiapkan berbagai format baku untuk pelaksanaan UKK
  2. Menyusun jadwal UKK
  3. Menyiapkan Naskah/ dokumen tes
  4. Pendataan peserta Ujian Tengah Semester dan Ujian Praktek
  5. Pendistribusian peserta dan  pengawas kedalam ruang tes
  6. Mendata kehadiran peserta tes dan pengawas
  7. Menindaklanjuti informasi dari ketua
  8. Menyiapkan bahan terkait untuk pelaporan
  9. Bertugas mewakili Ketua dalam memberikan kebijakan pada saat yang sangat mendesak/mendadak
  • BENDAHARA

Iyam Siti Mariyam, S.Pd.

Tugas :

  1. Menyiapkan format-format biaya program dan SPJ-nya
  2. Bersama-sama ketua dan sekretarisnya merencanakan anggaran biaya pelaksanaan
  3. Mengelola kerumahtanggaan /konsumsi pengawas dll.
  4. Serah terima naskah soal / lembar jawaban UKK
  5. Koordinator Persiapan Konsumsi
  • ANGGOTA 1

Drs. Sarju

Tugas :

  1. Bertanggung jawab pada pembagian KPU oleh wali kelas
  2. Bertanggung jawab pada kegiatan serah terima soal dan lembar jawaban siswa (LJK)
  3.  Mendata kehadiran peserta UKK dan Pengawas
  4. Koordinator pelaksanaan  UKK
  5. Koordinator pengolahan dan pengumpulan hasil UKK

 

  1. B.   Pengorganisasian Siswa
    1. Jumlah Peserta Ujian Tengah Semester Ganjil

Peserta  Ujian Kenaikan Kelas (UKK) Tahun Pelajaran 2010/2011 tediri dari siswa-siswi SMP Negeri 4 Lembang.

Berdasarkan data keadaan siswa , maka jumlah peserta Ujian Kenaikan Kelas (UKK) Tahun Pelajaran 2010/2011 adalah sebagai berikut :

Untuk jumlah peserta Ujian Tengah Semester Genah sebanyak – orang diperlukan ruang ujian sebagai berikut :

Ruang

Kelas

VII (Tujuh)

VIII (Delapan)

IX (Sembilan)

A

40

35

31

B

41

32

33

C

41

35

32

D

42

32

33

E

41

32

33

F

 

33

 

Jumlahj

205

199

162

Yang dikuti oleh :

Kelas VII  berjumlah 205 Siswa

Kelas VIII berjumlah 199 Siswa

Kelas IX berjumlah 162 Siswa

 

  1. Ruang Ujian

Ruang Ujian dimasing-masing kelas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PEMBIAYAAN

  1. I.      Penerimaan

Pembiayaan Kegiatan Ujian Nasional bersumber dari :

1.

Dana BOS SMP NEGERI 4 Lembang

Rp.

7.000.000,00

 

JUMLAH

Rp.

7.000.000,00

 

  1. II.    Anggaran yang telah dikeluarkan

1.

Penyusunan Program

Rp.

250.000,00

2.

Pengadaan Alat Tulis Kantor (ATK)

Rp.

1.642.000,00

3.

Transport Pengawas UKK

Rp.

875.000,00

4.

Honorarium Pemeriksaan Hasil UKK

Rp.

1.400.000,00

5.

Transport Panitia

Rp.

625.000,00

6.

Transport Tata Usaha (TU)

Rp.

450.000,00

7.

Penggandaan Naskah Soal  UKK

Rp.

703.500,00

8.

Pengadaan Bahan Ujian Praktek

Rp.

954.5000,00

9.

Penjilidan Laporan Program UKK

Rp.

100.000,00

 

 

Rp.

7.000.000,00

 

  1. III.      REKAPITULASI

 

1.

PENERIMAAN

Rp.

7.000.000,00

2.

PENGELUARAN

Rp.

7.000.000,00

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

 

Demikian laporan pelaksanaan program kegiatan Ujian Kenaikan Kelas (UKK) Tahun Pelajaran 2010-2011 kami sampaikan seabagai pertanggungjawaban kepada masyarakat dan pemerintah, mudah-mudahan hasil pelaksanaan UKK yang dilakukan memberikan gambaran bagaimana kemampuan siswa dalam menyerap ilmu yang selama ini disampaikan dan Hasil Belajar siswa ini menjadi umpan balik dalam perbaikan pembelajaran selanjutnya.

 

Pelaksanaan Ujian Kenaikan Kelas (UKK) ini salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas pendidikan di SMPN 4 Lembang, dengan adanya pelaporan kegiatan pelaksanaan Ujian Kenaikan Kelas (UKK) dijadikan pemetaan kemampuan siswa dan sebagai sarana acuan pembinaan selajutnya.

 

Mudah-mudahan pelaporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran-lampiran

Proposal Bantuan Renovasi Pembangunan Masjid

Kata Pengantar

Bismihi Ta’ala


Allahumma Shalli ala Muhammad wa Ali Muhammad

Assalamu ‘alaikum Wr.Wb.

 

Allah dan Rasul-Nya Muhammad Saw. memerintahkan umat Islam dimanapun mereka berada agar membangun masjid. Alangkah indah dan bahagianya umat Islam apabila memiliki sarana peribadatan yang memadai keberadaannya.

Kami, Panitia Pembangunan dan Renovasi Masjid Jamie Nurul Huda di bawah naungan Yayasan Nurul Huda Pojok Tengah bersama dengan Dewan Keluarga Masjid jamie Nurul Huda, Pojok Tengah Desa Cikahuripan Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat, berkeinginan memiliki pusat kegiatan da’wah Islam yang memadai dan layak untuk melayani masyarakat Islam yang membutuhkannya.

Saat ini kami terus berupaya mengembangkan kegiatan pendidikan dan da’wah.. Rencana Pembangunan dan Renovasi masjid pertama kali  dilakukan sejak tahun 2010 dengan total anggaran Rp. 373.373.000,00. dan Selain rencana pembangunan masjdi saat ini akan dibangunlah sarana penunjang untuk kegiatan kesekretariatan dan ruang majlis. Alhamdulillah sampai saat ini telah terkumpul sekitar Rp. 80.000.000,00., ini berkat dukungan dan pertisipasi para Jama’ah yang budiman namun dari dana tersebut baru beberapa persen yang dapat dibangun. Hanya saja sampai saat ini pembangunan Masjid harus segera diselesaikan.

Dengan mengharapkan karunia dan Rahmat Allah Swt., serta bertawasul kepada Sang penutup Rasulullah Saww., beserta Ahlibaitnya as. kami mengetuk hati para dermawan muslimin untuk turut membantu meringankan beban pembiayaan pembangunan.
Semoga kemurahan hati para dermawan mendapat balasan dari Allah Swt. pahala yang berlipat ganda.

Amin yaa Robbal ‘Alamin.

Terimakasih. Jazakumullahu Khairon Katsiro.

Wassalamu ‘alaikum Wr.Wb.

Bandung,  Maret 2012 M/Rabiul Akhir 1433 H

Ketua Panitia,

 

Dede Priatna

 

 

 

Pendahuluan

 

       
   
 
     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah, yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta mendirikan shalat, mengeluarkan zakat dan tidak takut melainkan kepada Allah. Lantaran itu mudah-mudahan mereka menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. At-Taubah:18)

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamu adalah sebaik-baiknya umat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Dan kamu beriman kepada Allah”. (QS. Al-Imran :110)

 

Masjid jamie Nurul Huda, terletak di Jalan Pojok Tengah  RT.06 RW.05 Desa Cikahuripan Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat, kini sudah tidak memadai lagi untuk berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini karena perkembangan penduduk serta lingkungan di sekitar Masjid jamie Nurul Huda menuntut adanya sarana dan prasana yang dapat menunjang peran dan fungsi masjid.

Bangunan masjid Nurul Falah sejak didirikan pada tahun 1987,  mulai direnovasi pada tahun 2010 dan sampai saat ini belum selesai pembangunan dan renovasinya. Oleh karena itu makin mantaplah niat dan tekad Panitia Pembangunan dan Renovasi Masjid dan Dewan Keluarga Masjid, Yayasan Nurul Huda serta masyarakat sekitar, untuk menyelesaikan pembangunan dan renovasi Masjid jamie Nurul Huda tersebut, dengan harapan masjid ini dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

 

 

Dasar Pemikiran

 

 
   

 

Pemantapan iman kepada Allah SWT dan peningkatan amal kepada masyarakat merupakan sasaran ibadah yang senantiasa harus terus ditumbuhkembangkan. Tidak dapat dipungkiri bahwa suatu saat tertentu mungkin terjadi keimanan seseorang sampai derajat yang kritis, atau terkadang kehidupan beragama di kalangan umat islam mengalami kemunduran. Oleh karena itu umat islam harus senantiasa bersikap introspektif.

Dalam rangka pemikiran itu, upaya pembangunan sarana fisik ibadah berupa mesjid Allah, diharapkan dapat menjadi wahana guna mempersiapkan tampilnya insan-insan Allah yang tangguh dan dapat menciptakan suasana kehidupan beragama yang bergairah di kalangan umat Islam. Niscaya mengemuka keyakinan yang disertai hidayah Allah, bahwa dari masjid yang repesentatif yang mewadahi kegiatan keagamaan yang semarak, akan muncul pribadi-probadi shalih yang sanggup membawakan amanat ajaran-ajaran Nabi Allah, dan mampu mengantar umat Islam kepada  kesejahteraan jasmaniah serta kemakmuran rohaniah.

Bagi umat Islam, Masjid adalah pusat komunikasi yang syarat dengan kegiatan peribadatan dan sekaligus wahan fisik untuk menjalin komunikasi dengan Allah SWT. Oleh karena itu sebuah masjid dapat menindikasikan derajat keimanan dan kegairahan kehidupan beragama umat islam.

Berangkat dari dasar pemikiran di atas, maka sangatlah perlu untuk bersama-sama mendirikan, merenovasi, membangun/mengembangkan bangunan Masjid, serta memakmurkaannya dengan kegiatan-kegiatan keagamaan yang semarak. Dalam konteks ini, kegiatan pembangunan dan renovasi Masjid Jamie Nurul Huda yang beralamat di Kp. Pojok Tengah desa Cikahuripan Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat, seyogyanya memperoleh dukungan secara moril maupun materil. Hal initidak berarti bahwa donasi dan bantuan dari kalangan jamaahnya telah berhenti mengalir, namun kegiatan pembangunan dan renovasi Masjid Jamie Nurul Huda untuk mewadahi kegiatan keagamaan jamaah Islam yang terus bertambah dan berkembang, membutuhkan dukungan dan donasi yang lebih luas dan meningkat.

 

 

 

 

Permasalahan Pembangunan dan Renovasi Masjid

 

 
   

 

Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam rangka pembangunan dan renovasi masjid jamie Nurul Huda adalah :

  1. Niat berjihad di Jalan Allah
  2. Bangunan sudah cukup tua
  3. Kondisi Bangunan sudah mengalami banyak kerusakan
  4. Daya tampung masjid sudah tidak memadai
  5. Mengembangkan syiar Islam

 

Tujuan

Amalan untuk pembangunan dan renovasi Masjid Jamie Nurul Huda, bertujuan untuk :

  1. Menyediakan sarana ibadah yang memadai, yang dapat mewadahi kegiatan dakwah Islami, baik untuk masa sekarang maupun perkembangannya di masa datang
  2. Meningkatkan rasa memiliki dan tanggung jawab yang tumbuh makin kuat di kalangan jamaah masjid jamie Nurul Huda, terhadap kelangsungan kehidupan Masjid dan dinamika dakwah Islami, serta tetap dapat memperoleh hidayah Allah SWT.
  3. Semakin memantapkan iman kepada Allah dan meningkatkan amal kepada masyarakat sebagai perwujudan ibadah umat Islam yang penuh keikhlasan.

 

Data Teknis

  1. Lokasi

Kp. Pojok Tengah  RT 06 RW 05 

Desa Cikahuripan Kecamatan Lembang

Kabupaten Bandung Barat

  1. Data Kondisi yang Ada

Masjid berada di atas tanah wakaf seluas 233 m2 bersertifikat dari BPN

Susunan Panitia

Terlampir

 

 

 

 

Sumber Dana

Sumber dana untuk pembiayaan pembangunan dan renovasi dan pembangunan Masjid Jamie Nurul Huda, diharapkan diperoleh :

  1. Kotak amal sodaqoh jariah dari jamaah Masjid jamie Nurul Huda
  2. Alokasi Dana DKM Masjid Jamie Nurul Huda
  3. Sumbangan dari  warga dan luar RW 05 Kp. Pojok Tengah Desa Cikahuripan
  4. Sumbangan dari Para Dermawan dan Donatur di kalangan Umat Islam

Anggaran Biaya (Terlampir)

Penutup

Dengan ucapan syukur Alhamdulillah, kami dapat menyampaikan amanat kepada segenap umat Islam, malalui proposal Masjid ini Tentu saja tidak akan banyak yang dapat kami perbuat dalam pembangunan dan renovasi Masjid Jamie Nurul Huda tanpa disertai oleh partipsipasi dan donasi para dermawan sekalian. Oleh sebab itu, kami Panitia Pembangunan Masjid Jamie Nurul Huda,  memohon kepada segenap umat Islam untuk bersama berjihad pada jalan Allah, melalui peran serta mewujudkan rencana pembangunan masjid ini.

Semoga apa yang telah menjadi niat kita bersama, dapat menjadi amal dan merupakan ibadah yang ikhlas kepada Allah SWT, serta dapat diterima oleh-Nya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran-Lampiran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Susunan Panitia

SUSUNAN PANITIA

PEMBANGUNAN DAN RENOVASI PEMBANGUNAN

MASJID JAMIE NURUL HUDA

 

                                          

 

Pelindung      

:

Sukmana ( Kepala Desa Cikahuripan)

 

:

Cucu Yusmana ( Ketua RW 05)

 

:

Ketua RT 01 s/d 06 Kp. Pojok Tengah

 

 

 

Panitia Pelaksana

 

 

Ketua

:

Dede Priatna

Sekretaris

:

Ir. Andi Supriyadi

Bendahara

:

Toto Liswanto

 

 

 

Seksi Dana dan Usaha

:

Mahnan Suherman

 

 

Ecep Wahyu

 

 

Didin saripudin

 

 

Asep Komarudin, S.H.

 

 

Nandang Rasdiman, S.Pd.

 

 

Iin Sumitra

 

 

Apep Komar

 

 

Deden Rutedi

 

 

Radi Muhtar, S.Pd.

 

 

Ana Juhana

 

 

Rukmaya

 

 

PKK dan Majlis Ta’lim

 

 

 

Seksi Publikasi dan Informasi

:

Karang Taruna RW 05

 

 

Remaja Masjid Nurul Huda

 

 

 

Seksi Pelaksana Lapangan

:

Adang

 

 

Lili

 

 

Iat Wiyatna

 

 

Juhana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran-Lampiran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pedoman Penilaian Pendidikan Karakter di SMP Negeri 4 Lembang

BAB I PENDAHULUAN

 

  1. A.       Latar Belakang

Sejalan dengan salah satu program prioritas pembangunan nasional. Semangat itu secara implisit ditegaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025, di mana pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu “Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.” Komitmen nasional tentang perlunya pendidikan karakter, secara imperatif tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Pasal 3 UU tersebut dinyatakan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Jika dicermati 5 (lima)  dari 8 (delapan) potensi peserta didik yang ingin dikembangkan sangat terkait erat dengan karakter.

RPJPN dan UUSPN merupakan landasan yang kokoh untuk melaksanakan secara operasional pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai prioritas program Kementerian Pendidikan Nasional 2010-2014, yang dituangkan dalam Rencana Aksi Nasional Pendidikan Karakter (2010): pendidikan karakter disebutkan sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan seluruh warga sekolah untuk memberikan keputusan baik-buruk, keteladanan, memelihara apa yang baik & mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.

Pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. Hal ini sekaligus menjadi upaya untuk mendukung perwujudan cita-cita sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Di samping itu, berbagai persoalan yang dihadapi oleh bangsa kita dewasa ini makin mendorong semangat dan upaya pemerintah untuk memprioritaskan pendidikan karakter sebagai dasar pembangunan pendidikan.

Upaya pembentukan karakter sesuai dengan budaya bangsa ini tentu tidak semata-mata hanya dilakukan di sekolah melalui serangkaian kegiatan belajar mengajar dan luar sekolah, akan tetapi juga melalui pembiasaan (habituasi) dalam kehidupan, seperti: religius, jujur, disiplin, toleran, kerja keras, cinta damai, tanggung-jawab, dan sebagainya. Pembiasaan itu bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang hal-hal yang benar dan salah, akan tetapi juga mampu merasakan terhadap nilai yang baik dan tidak baik, serta bersedia melakukannya dari lingkup terkecil seperti keluarga sampai dengan cakupan yang lebih luas di masyarakat. Nilai-nilai tersebut perlu ditumbuhkembangkan peserta didik yang pada akhirnya akan menjadi cerminan hidup bangsa Indonesia. Oleh karena itu, sekolah memiliki peranan yang besar dalam pengembangan pendidikan karakter karena peran sekolah sebagai pusat pembudayaan melalui pendekatan pengembangan budaya sekolah (school culture).

Sekolah dipandang dianggap sebagai salah satu alternatif yang bersifat preventif  karena sekolah membangun generasi baru bangsa yang lebih baik. Sebagai alternatif yang bersifat preventif, sekolah diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya dan karakter bangsa. Memang diakui bahwa hasil dari pendidikan yang dilaksanakan di sekolah akan terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera, tetapi memiliki daya tahan dan dampak yang kuat di masyarakat. Sekolah merupakan salah satu bagian dari pengembangan pendidikan karakter dan budaya bangsa.

SMP Negeri 4 Lembang merupakan salah satu sekolah yang berada di lingkungan Kabupaten Bandung Barat. Keberadaan SMP Negeri 4 Lembang dimana secara letak geografis jauh dari pusat perkotaan bahkan boleh di bilang sekolah yang berada di daerah terpencil, akan tetapi perkembangan arus globalisasi dan IPTEK sangat cepat berkembang sehingga secara tidak langsung membawa dampak positif dan negatif terhadap perilaku siswa. Dampak negatif inilah yang membawa perubahan pada tingkah laku siswa yang negatif. Melihat kondisi berbagai permasalahan yang ada seperti perkelahian antar siswa, kurang disiplin, banyaknya pelanggaran tata tertib sekolah dan lain-lain, membuat sekolah untuk bisa membentengi pengaruh negatif yang datang dari pengaruh budaya barat dimana dengan menerapkan kurikulum berwawasan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Sejalan  pelaksanaan Kurikulum SMP Negeri 4 Lembang yang berwawasan pendidikan budaya dan  karakter bangsa, maka untuk melihat sejauh mana pencapaian keberhasilan penerapan atau pengembangan budaya dan karakter bangsa yang diterapkan di sekolah  perlunya satu penilaian yang berkaitan dengan pendidikan budaya dan  karakter bangsa yang diterapkan di sekolah. Oleh karena itu, SMP Negeri 4 Lembang membuat Pedoman  Penilaian Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.

  1. B.        Tujuan

Pedoman penilaian pendidikan budaya dan karakter bangsa disusun sebagai acuan bagi sekolah  dan pendidik untuk merancang penilaian yang berkualitas guna mendukung pencapaian pengembangan budaya dan karakter bangsa. Di sisi lain, dengan menggunakan rancangan penilaian pendidikan budaya dan karakter bangsa ini diharapkan satuan pendidik dan pendidik dapat mengembangkan peserta didik menunjukkan  pembiasaan karakter yang diharapkan.

  1. C.        Ruang Lingkup

Pedoman Penilaian Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa ini memuat tentang Hakikat dan Prinsip Penilaian, prosedur dan mekanisme penilaian, pengembangan indikator, kisi-kisi, dan instrumen penilaian, dilengkapi dengan contoh berbagai format yang berkaitan dengan penilaian hasil belajar peserta didik.

BAB II HAKIKAT DAN PRINSIP PENILAIAN

 

  1. A.       Hakikat Penilaian

Penilaian merupakan rangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

Penilaian pencapaian pendidikan nilai budaya dan karakter didasarkan pada indikator. Sebagai contoh, indikator untuk nilai jujur di suatu semester dirumuskan dengan “mengatakan dengan sesungguhnya perasaan dirinya mengenai apa yang dilihat, diamati, dipelajari, atau dirasakan”  maka guru mengamati (melalui berbagai cara) apakah yang dikatakan seorang peserta didik itu jujur mewakili perasaan dirinya. Mungkin saja peserta didik menyatakan perasaannya itu secara lisan tetapi dapat juga dilakukan secara tertulis atau bahkan dengan bahasa tubuh. Perasaan yang dinyatakan itu mungkin saja memiliki gradasi dari perasaan yang tidak berbeda dengan perasaan umum teman sekelasnya sampai bahkan kepada yang bertentangan dengan perasaan umum teman sekelasnya.

Penilaian dilakukan secara terus menerus, setiap saat guru berada di kelas atau di sekolah. Model anecdotal record (catatan yang dibuat guru ketika melihat adanya perilaku yang berkenaan dengan nilai yang dikembangkan) selalu dapat digunakan guru. Selain itu, guru dapat pula memberikan tugas yang berisikan suatu persoalan atau kejadian yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan nilai yang dimilikinya. Sebagai contoh, peserta didik dimintakan menyatakan sikapnya terhadap upaya menolong pemalas, memberikan bantuan terhadap orang kikir, atau hal-hal lain yang bersifat bukan kontroversial sampai kepada hal yang dapat mengundang konflik pada dirinya.

Dari hasil pengamatan, catatan anekdotal, tugas, laporan, dan sebagainya, guru dapat memberikan kesimpulan atau pertimbangan tentang pencapaian suatu indikator atau bahkan suatu nilai. Kesimpulan atau pertimbangan itu dapat dinyatakan dalam  pernyataan kualitatif sebagai berikut ini.

BT             :  Belum Terlihat (apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator).

MT            :  Mulai Terlihat (apabila peserta didik sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator tetapi belum konsisten).

MB          :  Mulai Berkembang (apabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai tanda perilaku yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten).

MK            :           Membudaya (apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara  konsisten).

  1. B.        Prinsip Penilaian

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian pengembangan pendidikan  budaya dan karakter bangsa antara lain:

  1. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian indikator sekolah dan kelas dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa ;
  2. Penilaian menggunakan kriteria yakni berdasarkan pencapaian keberhasilan indikator sekolah dan kelas dalam pengembangan pendidikan  budaya dan karakter bangsa ;
  3. Penilaian dilakukan secara individual, kelompok (kelas) dan berkelanjutan;
  4. Hasil penilaian ditindaklanjuti ;
  5. Penilaian di sesuaikan dengan indikator sekolah dan kelas dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Penilaian pencapaian keberhasilan indikator sekolah dan kelas dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Sahih (valid), yakni penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan indikator yang dinilai;
  2. Objektif, yakni penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai;
  3. Adil, yakni penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik, dan tidak membedakan latar belakang sosial-ekonomi, budaya, agama, bahasa, suku bangsa, dan jender;
  4. Terpadu, yakni penilaian merupakan komponen yang tidak terpisahkan dari kegiatan sekolah dan pembelajaran;
  5. Terbuka, yakni prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan;
  6. Menyeluruh dan berkesinambungan(berkelanjutan), yakni penilaian mencakup aspek indikator sekolah dan kelas indikator dalam pengembangan pendidikan karakter dan budaya bangsa dengan menggunakan berbagai teknik yang sesuai.
  7. Sistematis, yakni penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah yang baku;
  8. Menggunakan acuan kriteria, yakni penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian keberhasilan  pengembangan pendidikan karakter dan budaya bangsa yang ditetapkan;
  9. Akuntabel, yakni penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.
  10. Nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan, (value is neither cought nor taught, it is learned) (Hermann, 1972) mengandung makna bahwa materi nilai-nilai dan karakter  yang dalam hal ini tertuang dalam visi SMP Negeri 4 Lembang “PRAKTIS” (Prestasi, Akhlakul Karimah Terciptanya lingkungan yang Indah dan Asri).
  11. Melalui semua mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah, Penilaian dilakukan pada setiap mata pelajaran dengan memuat nilai karakter dan budaya bangsa pada setiap silabus dan RPP mata pelajaran, bahkan pada kegaiatan pengembangan diri sekolah serta pada kegiatan sekolah.

BAB III TEKNIK DAN INSTRUMEN PENILAIAN

 

  1. A.       Teknik Penilaian

Penilaian pencapaian pendidikan nilai budaya dan karakter didasarkan pada indikator. Penilaian dilakukan melalui penilaian kelompok (per kelas) untuk indikator sekolah dan penilaian individual yang dilakukan dalam mata pelajaran oleh guru bersangkutan.

Penilaian pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang dikembangkan di SMP Negeri 4 Lembang, antara lain :

  1. Kelas, melalui proses belajar setiap mata pelajaran atau kegiatan yang dirancang sedemikian rupa. Dalam setiap kegiatan belajar pembelajaran guru dituntut untuk mampu mengembangkan penilaian pendidikan karakter dan budaya bangsa melalui ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Oleh karena itu, tidak selalu diperlukan kegiatan belajar khusus untuk mengembangkan nilai-nilai pada pendidikan budaya dan karakter bangsa.  Dalam Silabus dan RPP yang telah dikembangkan memuat nilai pendidikan karakter dan budaya bangsa yang dapat diharapkan dalam pembelajaran,  maka penilaian dilakukan melalui pengamatan secara langsung oleh guru selama proses pembelajaran. Penilaian dalam pembelajaran disesuaikan dengan nilai karakter yang diharapkan dengan kriteria penilaian yang yang telah disusun dalam RPP. Penilaian ini mencakup penilaian kelompok belajar dan penilaian secara individu.
  2. Sekolah, melalui berbagai kegiatan sekolah yang ditujukan untuk penilaian pengembangan nilai karakter dan budaya sekolah yang ingin dicapai. Contoh kegiatan yang dapat dimasukkan ke dalam program sekolah adalah lomba kebersihan dan keindahan antarkelas tentang peduli lingkungan kelas, disiplin dalan upacara bendera, lomba pidato bertema budaya dan karakter bangsa, pagelaran bertema budaya dan karakter bangsa, lomba olah raga antarkelas, lomba kesenian antarkelas, pameran hasil karya , lomba membuat tulisan, lomba ceramah keagamaan yang dilakukan pada saat PHBI. Penilaian ini dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap kelompok (kelas).
  3. Luar sekolah, melalui kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan lain yang diikuti oleh seluruh atau sebagian peserta didik, dirancang sekolah sejak awal tahun pelajaran, dan dimasukkan ke dalam Kalender Akademik. Misalnya, kunjungan ke tempat-tempat yang menumbuhkan rasa cinta terhadap  tanah air (wisata kota), menumbuhkan semangat kebangsaan, melakukan pengabdian masyarakat untuk menumbuhkan kepedulian dan kesetiakawanan sosial (membantu mereka yang tertimpa musibah banjir, memperbaiki atau membersihkan tempat-tempat umum, membantu membersihkan atau mengatur barang di tempat ibadah tertentu). Penilaian dilakukan melalui pengamatan dan pelaporan.

Teknik penilaian pendidikan karakter dan budaya bangsa yang dikembangkan di SMP Negeri 4 Lembang :

  1. Observasi, penilaian ini adalah penilaian yang dilakukan melalui pengamatan secara langsung terhadap individu maupun kelompok (kelas). Penilaian ini untuk dijadikan sebagai data kualitatif maupun kuantitatif yang akan diolah sebagai indikator pencapaian keberhasilan pengembangan nilai karakter bangsa. Penilaian untuk individu dilakukan selama proses belajar mengajar atau tergantung indikator yang ingin dicapai, sedangkan penilaian untuk kelompok (kelas) dilakukan selama kegiatan itu dilaksanakan.
  2. Produk (hasil karya), penilaian ini dilakukan atas persiapan, pelaksanaan dan hasil dalam suatu perlombaan yang diadakan sekolah.
  3. Penilaian catatan kasus, penilaian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan peserta didik.
  4. Rekapitulasi data, penilaian ini meliputi frekuensi ketidakhadiran, pelanggaran tata tertib, dan kunjungan perpustakaan.
  5. B.        Indikator  Penilaian

Indikator penilaian pengembangan pendidikan karakter dan budaya bangsa yang dilaksanakan di SMP  Negeri 4 Lembang, disesuaikan dengan kondisi sekolah. Indikator penilaian ini dibagi menjadi dua bagian :

  1. Indikator Sekolah

Indikator penilaian dilakukan terhadap kelompok (kelas), meliputi nilai-nilai karakrer yang dikembangkan dalam setiap kegiatan yang memerlukan pengembangan nilai karakter dan budaya bangsa.

Dari 18 nilai karakter yang di kembangkan oleh pemerintah, SMP Negeri 4 Lembang tidak seluruhnya melaksanakan tetapi ada beberapa prioritas nilai karakter yang di kembangkan, seperti tampak pada table berikut ini :

NILAI KARAKTER

KEGIATAN SEKOLAH

INDIKATOR PERILAKU

Religius

Pelaksanaan Sholat Berjamaah

Membaca Al-Qur’an Sebelum Pembelajaran

Melaksanakan sholat berjamaah dzuhur setelah pulang sekolah sesuai jadwal yang tealh ditentukan

Membaca Al-Qur’an setiap hari sebelum pembelajaran awal di mulai

Jujur

Kantin kejujuran

Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

Disiplin

Mengikuti Tata Tertib sekolah

Pelaksanaan upacara bendera

Patuh terhadap  semua tata tertib yang berlaku di sekolah

Datang dan pulang tepat waktu

Tertib dalam melaksanakan upacara

Kerja Keras

Perlombaan Hari Raya Besar Nasional (PHBN) dan PHBI

Menciptakan daya saing yang sehat dalam setiap perlombaan yang dilaksanakan sekolah

Demokratis

Pemilihan pengurus OSIS

Terciptanya pemilihan OSIS yang terbuka

Gemar Membaca

Program wajib baca di perpustakaan

Frekuensi kunjungan ke perpustakaan

Peduli Lingkungan

Lomba kebersihan kelas

Terciptanya lingkungan kebersihan kelas

Peduli Sosial

Membantu warga lingkungan sekolah

Terciptanya kepedulian sosial dalam masyarakat sekitar sekolah

Tanggung jawab

Pelaksanaan Upacara

Adanya rasa tanggung jawab sebagai pelaksana upacara

  1. Indikator Kelas

Pada dasarnya bisa semua nilai  karakter diterapkan dalam mata pelajaran terntentu, tetapi SMP Negeri 4 Lembang mempunya skala prioritas minimal dalam penilaian yang dilakukan di dalam kelas. Indikator kelas seperti tampah pada tabel berikut ini :

NILAI KARAKTER

KEGIATAN KELAS

INDIKATOR PERILAKU

Religius

Berdo’a

Melakukan berdo’a sebelum dan sesudah setiap mata pelajaran

Jujur

Dalam Evaluasi Pembelajaran ( Ulangan Harian )

Jujur tidak menyontek kepada temannya

Disiplin

Tertib dalam mengikuti proses pembelajaran (tidak ribut)

Tertib selama pembelajaran di dalam kelas

Kerja Keras

Belajar dalam Kelompok

Berusaha sebaik mungkin dalam diskusi kelompok

Mandiri

Dalam mengerjakan soal mandiri ( Latihan soal mandiri, Ulangan Harian)

Mengerjakan soal dilakuka secara mandiri

Bersahabat dan komunikatif

Diskusi Kelompok dalam pembelajaran

Terciptanya kerjasama dan adanya komunikasi ketika sedang diskusi kelompok

Peduli Sosial

Membantu teman jika tidak membawa peralatan yang diperlukan

Terciptanya kepedulian sosial dalam membantu temannya

Tanggung jawab

Pelaksanaan Upacara

Adanya rasa tanggung jawab sebagai pelaksana upacara

  1. C.        Penilaian

Dalam penilaian pengembangan nilai karakter dan budaya bangsa yang di kembang di SMP Negeri 4 Lembang, mengacu kepada indicator sekolah dan kelas, maka di spesipikasikan berdasarkan pelaksanaan kegiatan. Penilaian seperti tampak pada tabel berikut :

  1. Penilaian Indikator Sekolah

KEGIATAN

NILAI KARAKTER

INDIKATOR PERILAKU

Kantin Jujur

JUJUR

Melakukan transaksi pembelian dengan jujur walaupun tidak terdapat pedagang

Pelaksanaan Upacara Bendera

DISIPLIN

  1. Memasuki lapangan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan
  2. Tertib selama pelaksanaan upacara bendera
  3. Kerapian dan kelengkapan pakaian seragam sekolah dalam pelaksanaan upacara bendera

Kebersihan Kelas

PEDULI LINGKUNGAN

  1. Bersih kelas sebelum pembelajaran
  2. Membuang sampah pada tempatnya

Lomba pada PHBI dan PHBN

KERJA KERAS

  1. Berusaha sebaik mungkin untuk menampilkan yang terbaik.
  2. Bersaing secara sehat untuk menjadi yang terbaik

Wajib membaca di perpustakaan

GEMAR MEMBACA

  1. Frekuensi pengunjung perpustakaan
  1. Penilaian Indikator Kelas

Penilaian indikator kelas dilakukan selama proses pembelajaran di kelas dengan memuat nilai budaya dan karakter bangsa yang dikembangkan dalam silabus dan RPP.

Nilai budaya dan karakter bangsa yang dikembangkan dan adanya penilaian setidaknya memuat minimal nilai karakter sebagai berikut :

  1. Religius                          : berdo’a
  2. Jujur                               : Tidak mencontek saat ujian
  3. Disiplin                           : Tidak rebut saat pembelajaran
  4. Kerjakeras                      : Bersaing sehat
  5. Mandiri                          : Menyelesaikan soal individual secara mandiri
  6. Tanggungjawab             : Mengerjakan penugasan yang diberikan guru
  7. Bersahabat/Komunikatif           : Berkomunikasi saat diskusi
  8. Peduli Sosial                   : Membantu temannya dalam hal kebaikan

Penilaian bisa berkurang dan bertambah sesuai dengan kebutuhan materi yang diajarkan dalam pembelajaran.

Untuk menilai akhlak peserta didik, guru mata pelajaran melakukan pengamatan terhadap perilaku peserta didik, baik di dalam maupun di luar kelas. Pengamatan ini dimaksudkan untuk menilai perilaku peserta didik yang mencerminkan akhlak seperti kedisiplinan, tanggung jawab, sopan santun, peduli sosial, dan kejujuran. Hal-hal yang dinilai antara lain mencakup aspek:

  1. Kedisiplinan, yaitu kepatuhan kepada peraturan atau tata tertib, seperti datang tepat waktu, mengikuti semua kegiatan, dan pulang tepat waktu.
  2. Kejujuran, yaitu kejujuran dalam perkataan dan perbuatan, seperti tidak berbohong, dan tidak berlaku curang.
  3. Tanggungjawab, yaitu kesadaran untuk melaksanakan tugas dan kewajiban yang diberikan, seperti menyelesaikan tugas-tugas selama kegiatan berlangsung.
  4. Sopan santun, yaitu sikap hormat kepada orang lain, baik dalam bentuk perkataan, perbuatan, dan sikap, seperti berbicara, berpakaian, dan duduk yang sopan.
  5. Peduli sosial, yaitu kemampuan untuk berinteraksi sosial dengan orang lain secara baik, seperti menjalin hubungan baik dengan guru dan sesama teman, menolong teman, dan mau bekerjasama dalam kegiatan yang positif.

Untuk menilai kepribadian peserta didik, guru mata pelajaran melakukan pengamatan terhadap perilaku peserta didik, baik di dalam maupun di luar kelas. Pengamatan ini dimaksudkan untuk menilai perilaku peserta didik yang mencerminkan kepribadian seperti percaya diri, harga diri, motivasi diri, kompetisi, saling menghargai, dan kerjasama. Indikator masing-masing aspek kepribadian antara lain sebagai berikut :

  1. Percaya diri: diwujudkan dalam perilaku berani menyatakan pendapat, bertanya, menegur, mengritisi tentang sesuatu hal.
  2. Harga diri: diwujudkan dalam perilaku tidak mudah menyerah dan mengetahui kelebihan diri dan mengakui kelemahan diri.
  3. Motivasi diri: diwujudkan dalam perilaku kemauan untuk maju, menyelesaikan segala hal, berprestasi, dan meraih cita-cita.
  4. Saling menghargai: diwujudkan dalam perilaku mau menerima pendapat yang berbeda, memaklumi kekurangan orang lain, dan mengakui kelebihan orang lain.
  5. Kompetisi: diwujudkan dalam bentuk perilaku yang tegar menghadapi kesulitan, berani bersaing dengan orang lain, dan berani kalah dengan orang lain berlandaskan kejujuran (fair play).
  1. D.       Instrumen Penilaian

Dalam penilaian pencapaian nilai budaya dan karakter yang dikembangkan baik melalui penilaian indikator sekolah maupun penilaian indikator kelas diperlukan teknik penilaian, dimana dalam teknik penilaian sudah barang tentu adanya instrument penilaian yang sesuai.

Tabel berikut merupakan teknik dan instrumen penilaian yang digunkan dalam penilaian pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Tabel Klasifikasi Teknik  dan Instrumen Penilaian

Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter bangsa

SMP Negeri 4 Lembang

 

TEKNIK PENILAIAN

INSTRUMEN PENILAIAN

Observasi

Lembar Penilaian

Produk (hasil karya perlombaan)

Lembar Penilaian Produk

Catatan Kasus

Pencatatan jumlah kasus di BP

Rekapitulasi data

Frekuensi data

Instrumen observasi berupa lembar penilaian yang didalamnya merupakan pedoman penskoran dengan berbagai kriteria yang dinilai, instrument produk berupa lembar penilaian produk mulai dari persiapan, pelaksanaan sampai hasil produk suatu perlombaan, dan instrumen catatan kasus berupa laporan rekapitulasi catatan kasus. Setiap instrumen yang dikembangkan memiliki pedoman penskoran dan kriteria penilaian.

Berikut ini contoh instrumen penilaian yang dikembangkan di SMP Negeri 4 Lembang.

  1. 1.         Instrumen Observasi (Pengamatan)
    1. a.        Contoh Instrumen Observasi dalam Upacara Bendera

Hari : Senin (Minggu I), Tanggal : ……………………………….

NO

KELAS

INDIKATOR NILAI DISIPLIN

JM

TEPAT WAKTU

RAPI

TERTIB

4

3

2

1

4

3

2

1

4

3

2

1

1

VII A

V

V

V

5

2

VII B

V

V

V

3

3

VII C

V

V

V

6

4

VII D

V

V

V

3

5

VII E

V

V

V

5

6

VIII A

V

V

V

5

7

VIII B

V

V

V

6

8

VIII C

V

V

V

3

9

VIII D

V

V

V

3

10

VIII E

V

V

V

3

11

IX A

V

V

V

6

12

IX B

V

V

V

3

13

IX C

V

V

V

3

14

IX D

V

V

V

3

15

IX E

V

V

V

5

16

IX F

V

V

V

3

Jumlah Total

65

Pengolahan nilai

Untuk penskoran mengggunakan rentang 1-4, SB (Sangat baik) = 4, B (Baik) = 3, C (Cukup) = 2, K (Kurang) = 1. Dengan tiga indikator penilaian kedisiplinan dalam pelaksanaan upacara bendera rentang skor 3 – 12.

Kualifikasi

Berdasarkan pengamatan per kelas untuk  pada indikator pencapaian kedisiplinan disimpulkan sebagai berikut :

BT  (Belum Terlihat)                  : Skor 1 – 3  (Kurang)

MT (Mulai Terlihat)                   : Skor 4 – 6  (Cukup)

MB (Mulai Berkembang)          : Skor 7 – 9  (Baik)

MK (Membudaya)                     : Skor 10 – 12 (Sangat Baik)

Untuk pengamatan secara keseluruhan (sekolah) pada indikator pencapaian nilai karakter kedisiplinan di simpulkan sebagai berikut :

BT  (Belum Terlihat)                  : Skor 48 – 83  (Kurang)

MT (Mulai Terlihat)                   : Skor 84 – 119  (Cukup)

MB (Mulai Berkembang)          : Skor 120 – 155  (Baik)

MK (Membudaya)                     : Skor 156 – 192 (Sangat Baik)

  1. b.        Contoh Instrumen Observasi dalam Peduli Lingkungan

Hari : ……………. Tanggal : ………………………………………………

NO

KELAS

INDIKATOR PEDULI LINGKUNGAN

JML

KEBERSIHAN KELAS

KERAPIAN MEJA KURSI

4

3

2

1

4

3

2

1

1

VII A

V

V

3

2

VII B

V

V

2

3

VII C

V

V

6

4

VII D

V

V

2

5

VII E

V

V

3

6

VIII A

V

V

3

7

VIII B

V

V

4

8

VIII C

V

V

1

9

VIII D

V

V

1

10

VIII E

V

V

1

11

IX A

V

V

4

12

IX B

V

V

2

13

IX C

V

V

2

14

IX D

V

V

2

15

IX E

V

V

4

16

IX F

V

V

2

Jumlah Total

42

Pengolahan nilai

Untuk penskoran mengggunakan rentang 1-4, SB (Sangat baik) = 4, B (Baik) = 3, C (Cukup) = 2, K (Kurang) = 1. Dengan tiga indikator penilaian kedisiplinan dalam pelaksanaan upacara bendera rentang skor 2 – 8.

Kualifikasi

Berdasarkan pengamatan per kelas untuk  pada indikator pencapaian kedisiplinan disimpulkan sebagai berikut :

BT  (Belum Terlihat)                  : Skor 1 – 2  (Kurang)

MT (Mulai Terlihat)                   : Skor 3 – 4  (Cukup)

MB (Mulai Berkembang)          : Skor 5 – 6  (Baik)

MK (Membudaya)                     : Skor 7 – 8 (Sangat Baik)

Untuk pengamatan secara keseluruhan (sekolah) pada indikator pencapaian nilai karakter kedisiplinan di simpulkan sebagai berikut :

BT  (Belum Terlihat)                  : Skor 16 – 27  (Kurang)

MT (Mulai Terlihat)                   : Skor 28 – 39  (Cukup)

MB (Mulai Berkembang)          : Skor 40 – 51  (Baik)

MK (Membudaya)                     : Skor 52 – 64 (Sangat Baik)

  1. Contoh Instrumen Observasi dalam Pembelajaran di Kelas

Mata Pelajaran :  ………………….                         Kelas     : ……………………..

Hari                    :  ………………….                         Tanggal : ……………………..

NO

NAMA SISWA

NILAI KARAKTER

JML

RELIGIUS

DISIPLIN

KERJASAMA

MANDIRI

TANGGUNG JAWAB

1

A

4

3

3

3

3

16

2

B

3

3

2

2

2

12

3

C

2

2

1

2

1

8

4

D

3

2

2

3

2

12

5

E..

3

2

2

2

3

12

Dst

60

Pengolahan nilai

Untuk penskoran mengggunakan rentang 1-4, SB (Sangat baik) = 4, B (Baik) = 3, C (Cukup) = 2, K (Kurang) = 1. Ini contoh instrumen penilaian yang dilakukan dalam pembelajaran yang terdiri dari lima karakter yang di kembangkan dengan  skor 5 – 20.

Kualifikasi

Berdasarkan pengamatan per siswa untuk  pada indikator pencapaian nilai karakter dapat disimpulkan sebagai berikut :

BT  (Belum Terlihat)                  : Skor 1 – 5  (Kurang)

MT (Mulai Terlihat)                   : Skor 6 – 10  (Cukup)

MB (Mulai Berkembang)          : Skor 11 – 15  (Baik)

MK (Membudaya)                     : Skor 16 – 20 (Sangat Baik)

  1. 2.         Instrumen Produk (Hasil Karya Perlombaan)

Contoh Penilaian Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter bangsa pada Perlombaan (Lomba Tumpeng Hias) pada acara PHBN

NO

ASPEK YANG DINILAI

SKOR

BOBOT

1

Tahap Persiapan

  1. Ketepatan pemilihan jenis bahan

(tepat =2, tidak =1)

  1. Kelengkapan alat

(lengkap =2, tidak = 1)

1-2

1-2

20%

2

Tahap Pelaksanaan

  1. Ketelitian dalam pemilihan bahan

(tepat = 2, tidak =1)

  1. Kerjasama tim

(ada = 2, tidak = 1)

  1. Komunikasi tim

(ada = 2, tidak =1)

1-2

1-2

1-2

40%

3

Tahap Hasil

  1. Selesai tepat waktu

(tepat = 2, tidak =1)

  1. Kesesuaian dengan tugas

(sesuai = 2, tidak =1)

  1. Kerapian hasil

(rapi = 2, tidak =1)

1-2

1-2

1-3

40%

Catatan : Dilihat per indicator

  1. 3.         Instrumen Catatan Kasus

Penilaian dini dilihat dari berapa jumlah kasus per pelanggaran tata tertib.

Contoh : catatan pelanggaran kedisiplinan dalam minggu ke- berjumlah 63 orang dari 630 orang, kemudian pelanggaran minggu ke-2 berjumlah 54 orang.

Artinya :

Minggu ke-1 Pelanggaran ada (63 : 630 ) x 100 % = 10 %

Minggu ke-2 Pelanggaran ada (54 : 630 ) x 100 % = 8,57 %

Selisih Minggu sesudahnya dengan kondisi sebelumnya adalah :

(10 – 8,57)% = 1,4 %

Sehingga Perubahannya adalah  = (1,4 : 10) x 100 % = 14 % (BT), ini bisa dilihat berdasarkan kulalifikasi.

Kualifikasinya adalah sebagai berikut :

Untuk melihat perubahan  indikator pencapaian perilaku didasarkan kepada kondisi awal pelanggaran yang terjadi, terus ditinjau dari rata-rata perubahan indicator setelah kondisi awal.

Berdasarkan pengamatan per kasus untuk  perubahan pada indikator pencapaian nilai karakter yang dikembangkan adalah disimpulkan sebagai berikut :

BT  (Belum Terlihat)                         : Perubahan ≤  25 %  (Kurang)

MT (Mulai Terlihat)              : 25 %  < Perubahan ≤ 50 %(Cukup)

MB (Mulai Berkembang)     : 50 %  < Perubahan ≤ 75 %( (Baik)

MK (Membudaya)                : Perubahan > 75 % (Sangat Baik)

  1. 4.         Rekapitulasi data

Rekapitulasi data ini adalah dilihat berdasarkan jumlah awal dan kondisi ssesudahnya, misalkan tentang penilaian gemar membaca di perpustakaan.

Penilaian dini dilihat dari berapa jumlah pengunjung minggu ke-1, ke-2, dan seterusnya, maka penilian dilihat dari kondisi awal dan rata-rata kondisi sesudahnya.

Contoh penilian untuk melihat perubahan pengunjung ke perpustakaan dalam satu bulan, minggu ke- jumlah pengunjung 50 orang, minggu ke-2 berjumlah 65 orang, minggu ke-3 berjumlah 70 orang, dan minggu ke-4 berjumlah 75 orang. (catatan seandainya jumlah siswa seluruhnya adalah 630 orang)

Artinya :

Kondisi awal pengunjung sebanyak : 65 orang

Rata-rata kondisi sesudahnya sebanyak : (65 + 70 + 75) : 3 = 70 orang

Selisih kondisi sesudahnya dengan sebelumnya adalah : 70 – 5 = 5 orang

Maka perubahannya adalah (5 : 65 ) x 100 % = 7,69 % (BT)

Kualifikasinya adalah sebagai berikut :

Berdasarkan rekafitulasi hasil  untuk  perubahan pada indikator pencapaian nilai karakter yang dikembangkan adalah disimpulkan sebagai berikut :

BT  (Belum Terlihat)                         : Perubahan ≤  25 %  (Kurang)

MT (Mulai Terlihat)              : 25 %  < Perubahan ≤ 50 %(Cukup)

MB (Mulai Berkembang)     : 50 %  < Perubahan ≤ 75 %( (Baik)

MK (Membudaya)                : Perubahan > 75 % (Sangat Baik)

Setiap instrumen penilaian pendidikan budaya dan karakter bangsa ini dengan memenuhi persyaratan substansi, konstruksi, dan bahasa. Persyaratan substansi merepresentasikan perubahan perilaku yang dinilai. Persyaratan konstruksi merepresentasikan persyaratan teknis sesuai dengan bentuk instrumen yang digunakan.

Persyaratan bahasa berhubungan dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar serta komunikatif sesuai dengan taraf perkembangan perubahan perilaku peserta didik. Instrumen penilaian dilengkapi dengan pedoman penskoran, dimana pedoman bisa berubah sesuai dengan kebutuhan tetapi tidah merubah secara subtansi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISIS PENILAIAN

 

  1. A.       Pengolahan Penilaian

Pengolahan penilaian perkembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang diterapkan di SMP Negeri 4 Lembang, dilihat berdasarkan indicator sebagai berikut :

  1. 1.      Indikator Sekolah

Untuk pengolahan indicator sekolah ini didasarkan kepada penilaian kelompok (kelas).

Pengolahan menggunakan rekapitulasi hasil pengamatan kemudian diolah menggunakan program SPSS untuk mengetahui sejauh mana perubahan indicator yang diharapkan dari masing-masing nilai karakter yang dikembangkan. Ini di olah oleh bagian kurikulum dan kesiswaan

  1. 2.      Indikator Kelas

Untuk pengolahan ini dilakukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan, karena berkaitan dengan perubahan perilaku terhadap masing-masing siswa.

Guru membuat kesimpulan perubahan perilaku sendiri yang kemudian dilaporkan ke kurikulum dan kesiswaan.

  1. B.        Analiisis Penilaian
    1. 1.      Analisis hasil penilaian oleh  guru mata pelajaran

Kegiatan yang dilakukan oleh guruk pada tahap analisis adalah menganalisis hasil penilaian menggunakan acuan kriteria yaitu membandingkan hasil penilaian masing-masing peserta didik dengan standar yang telah ditetapkan. Untuk penilaian yang dilakukan oleh guru hasil penilaian masing-masing peserta didik dibandingkan dengan kondisi awal. Analisis ini bermanfaat untuk mengetahui kemajuan perubahan perilaku peserta didik, serta untuk memperbaiki sikap dan perilaku siswa.

  1. 2.       Analisis hasil penilaian oleh satuan sekolah (TIM)

Kegiatan analisis hasil penilaian oleh sekolah meliputi:

  1. Menganalisis hasil pengamatan perilaku peserta didik secara keseluruhan dari kondisi awal dibandingkan dengan kondisi sesudahnya.
  2. Menganalisis hasil perubahan perilaku secara umum dengan membandingkan kondisi sebelumnya dengan sesudahnya;
  3. Menganalisis hasil penilaian kelompok (kelas) sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan;
  4. Melalui rapat dewan guru, sekolah untuk menetapkan dapat tidaknya tindakan yang diberikan terhadap siswa;

BAB V TINDAK LANJUT DAN PELAPORAN

 

  1. A.       Tindak Lanjut

Analisis hasil penilaian telah dilakukan perlu ditindak lanjuti.

  1. 1.      Tindak lanjut oleh guru

Kegiatan yang dilakukan oleh guru sebagai tindak lanjut hasil analisis meliputi:

  1. Pelaksanaan program pengarahan karakter individual oleh guru dan guru BP kepada peserta didik yang belum mencapai perubahan perilaku (belum memenuhi standar) dan memberikan penghargaan bagi peserta didik yang memiliki perilaku yang amat baik;
  2. Pengadministrasian semua hasil penilaian yang telah dilaksanakan.
  1. 2.       Tindak lanjut oleh sekolah

Kegiatan yang dilakukan oleh satuan pendidikan sebagai tindak lanjut hasil analisis meliputi:

  1. Menyiapkan laporan hasil pengamatan peserta didik;
  2. Menyiapkan program khusus untuk pembinaan karakter peserta didik
  1. B.        Pelaporan

Pelaporan hasil penilaian pengamatan disajikan dalam bentuk profil hasil catatan kualitatif dan data observasi peserta didik.

  1.  Pelaporan hasil penilaian oleh guru

Pada tahap pelaporan hasil penilaian, pendidik melakukan kegiatan sebagai berikut:

  1. Menghitung/menetapkan nilai karakter yang dikembangkan dari berbagai macam penilaian kelas
  2. Melaporkan hasil observasi penilaian karakter yang dikembangkan dalam silabus dan RPP mata pelajaran dari setiap peserta didik pada setiap akhir semester kepada kepala sekolah melalui wali kelas atau wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan kesiswaan  yang dideskripsikan secara singkat sebagai cerminan kompetensi yang utuh;
  3. Memberi masukan hasil penilaian akhlak kepada guru Pendidikan Agama dan hasil penilaian kepribadian kepada guru Pendidikan Kewarganegaraan sebagai informasi untuk menentukan nilai akhir semester akhlak dan kepribadian peserta didik;

Laporan Tamanisasi SMP Negeri 4 Lembang

BAB I

PENDAHULUAN

 

 A.       Dasar Pemikiran

Upaya dalam menata dan memelihara kelestarian lingkungan, tidaklah hanya mengandalkan pemerintah saja, namun lebih jauh lingkungan sekolah pun mempunyai peranan penting dalam upaya mewujudkan hal itu. Di antaranya yaitu dengan pola pendidikan melalui berbagai penyuluhan tentang pentingnya menata dan memelihara kelestarian lingkungan hidup. Membangun kesadaran siswa agar mempunyai wawasan lingkungan yang luas merupakan “pilar” dalam menjaga kondisi lingkungan benar-benar jauh dari berbagai sumber pengrusakan dan pencemaran lingkungan. Sebab, pada dasarnya masalah lingkungan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan disebabkan oleh tangan-tangan manusia itu sendiri.

Melihat kondisi SMP Negeri 4 Lembang, dimana banyak lahan-lahan yang kurang produktif dan tidak terawat, maka SMP Negeri 4 Lembang melakukan upaya pembenahan dalam menata dan memelihara lingkungan lahan, taman yang selama ini kurang terawat untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik, disamping saat ini program peduli lingkungan yang sedang digembor-gemborkan oleh pemerintah.

Dengan adanya penerapan tamanisasi di SMP Negeri 4 Lembang diharapkan bisa menjadi salah satu alternatif dalam menata dan memelihara kelestarian lingkungan hidup. Disamping adanya kesadaran masyarakat yang tinggi dalam memelihara dan melestarikan lingkungan hidup dalam rangka mengantisipasi dari segala bentuk pengrusakan dan pencemaran lingkungan.

SMP Negeri 4 Lembang yang berwawasan lingkungan merupakan dasar dalam menciptakan suasana keindahan dan kenyamanan lingkungan, terutama dalam meningkatkan lingkungan asri, sejuk, indah, dan bersih. Tamanisasi SMP Negeri 4 adalah salah satu kegiatan atau gerakan penting yang harus dilaksanakan secara konseptual, semangat dalam menangani krisis lingkungan yang ada di negeri ini bahkan di seluruh dunia.

Melihat kondisi yang diuraikan di atas dan seiring dengan program peduli lingkungan SMP Negeri 4 Lembang, maka sekolah membuat laporan  program Tamanisasi Sekolah “ School In The Park Project”.

 B.        Maksud Dan Tujuan Laporan

Maksud dan Tujuan Laporan Program Tamanisasi SMP Negeri 4 Lembang adalah:

  1. Mendapatkan gambaran sejauh mana proses persiapan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta tindak lanjut program tamanisasi.
  2. Mendapatkan gambaran tentang cara melaksanakan suatu kegiatan yang berbasis lingkungan dan berkelanjutan.
  3. Memberikan perkembangan pelaksanaan program tamanisasi yang dilaksanakan di SMP Negeri 4 Lembang.

 C.        Ruang Lingkup Isi Laporan.

Ruang lingkup Laporan yaitu perkembangan tamanisasi yang meliputi:

  1. Persiapan dalam program tamanisasi SMP Negeri 4 Lembang
  2. Pelaksanaan dan proses dalam program tamanisasi SMP Negeri 4 Lembang
  3. Monitoring dan Evaluasi Program Tamanisasi SMP Negeri 4 Lembang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LAPORAN PELAKSANAAN TAMANISASI SMPN 4 LEMBANG

 

Pada bagian ini dimuat segala sesuatu yang ingin dilaporkan antara lain:A.       Nama Kegiatan.

Program Tamanisasi SMP Negeri 4 Lembang

School In The Park Project

 B.        Tempat dan Waktu Kegiatan.

    1. 1.   Area Kampus SMP Negeri 4 Lembang

Jl. Sukarasa Desa Cibodas Kecamatan Lembang

Kabupaten Bandung Barat

  1. 2.   Waktu Pelaksanaan:

Januari – Juni 2011

Waktu terlampir

 

  1. C.        Pelaksana kegiatan.

Pelaksana kegiatan program tamanisasi SMP Negeri 4 Lembang :

  1. Ketua Program           : Dr. Hj. Nita Isaeni, S.Ip., M.Pd
  2. Sekretaris                   : Yudi Kustiana, S.Pd.
  3. Bendahara                 : N. Yuyun Yuniarti, S.Pd.
  4. Sie. Design                 : Handani, S.Pd. dan Hendra Sanjaya, S.S.
  5. Sie. Kurikulum

dan

Pengembangan          : Bambang Utoyo, S.Pd.

  1. Sie. Pelaksana

Program                     : R. Dadang Kamaludin, S.Pd.

  1. Pelaksana Lapangan  : Guru PLH, Wali Kelas, dan Siswa

 D.       Persiapan dan rencana kegiatan.

Persiapan dan rencana kegiatan terlampir

 

  1. E.        Sasaran kegiatan.

Yang menjadi objek sasaran antara lain, meliputi :

  1. Sarana Fisik : Lahan Taman Sekolah
  2. Sumber Daya Manusia : Guru dan Siswa
  3. F.         Pelaksanaan kegiatan

Pelaksanaan kegiatan program Tamanisasi SMP Negeri 4 Lembang, meliputi :

  1. Pre Tes dan Pos Tes Pendidikan Lingkungan Hidup

Pelaksanaan Pre Tes Pendidikan Lingkungan Hidup telah dilaksanakan pada hari selasa tanggal 7 Pebruari 2012, sedangkan Pos Tes dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 22 Maret 2012.

Hasilnya (Terlampir)

  1. Bidang Program Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)

Untuk PLH, guru dan wali kelas menyuruh masing-masing siswa membawa lima jenis tanaman yang berbeda dan dikumpulkan per kelas.

  1. Pengukuran Curah Hujan

Pengukuran curah hujan untuk mengetahui intesitas rata-rata curah hujan per minggu yang berada di sekitar SMP Negeri 4 Lembang

Pengukuran dilakukan oleh guru piket PLH dan siswa secara bergiliran setiap hari.

Hasilnya (Terlampir)

  1. Pembukaan lahan produktif

Pembukaan lahan yang kurang produktif menjadi produktif dilakukan pada awal bulan pebruari oleh tenaga kerja harian selama satu minggu.

  1. Pengolahan lahan tamanisasi

Pengolahan lahan taman yang berada disekitar sekolah dilakukan oleh guru PLH bersama-sama dengan siswa.

Pengolahan lahan dilaksanakan oleh siswa sesuai dengan jam pelajaran Mulok PLH.

  1. Perawatan tamanisasi sekolah

Perawatan taman adalah salah satu faktor keberhasilan, karena perawatan yang berkelanjutan sangat menentukan kualitas hasil yang akan dicapai. Perawatan dilakukan oleh:

  1. Penjaga sekolah
  2. Guru PLH
  3. Siswa

 

 

 

 

  1. G.       Kesulitan, Hambatan dan Solusi.
    1. 1.      Kesulitan dan Kesulitan

Dalam pelaksanaan yang dilakukan dalam program tamanisasi SMP Negeri 4 Lembang antara lain:

  1. Masih kurangnya jenis tanaman yang benar-benar diperlukan untuk program tamanisasi yang dimiliki siswa.
  2. Masih kekurangan sumber daya manusia yang benar-benar sesuai dengan program tamanisasi sekolah.
  3. 2.      Solusi

Untuk mengatasi permasalaha, maka sekolah memiliki solusi, antara lain:

  1. Membeli jenis tanaman yang diperlukan.
  2. Mengoptimalkan tenaga atau sumber daya manusia yang berasal dari guru-guru yang  paham terhadap taman sekolah.

 

  1. H.       Hasil Kegiatan.

Hasil kegiatan selama triwulan pertama:

  1. Pembukaan lahan tamanisasi

Pembukaan lahan tamanisasi dilakukan mulai tanggal 1-6 Pebruari 2012, pekerjaan dilakukan oleh pekerja harian

  1. Pengolahan lahan

Pengolahan lahan dilakukan oleh Guru PLH dan Siswa secara bergiliran telah dilaksanakan selama minggu kedua sampai ketiga bulan Pebruari tahun 2012

  1. Penanaman Tanaman

Penanaman berbagai jenis tanaman dan rumput dilaksanakan minggu keempat sampai minggu kedua bulan maret tahun 2012

  1. Perawatan lahan

Perawatan lahan areanya dibagi-bagi per kelas

  1. Hasil Pre Tes dan Pos Tes

Hasil (terlampir)

 

  1. I.          Harapan dalam Program Tamanisasi

Setelah siswa mengikuti program tamanisasi maka diharapkan:

  1. Muncul kesadaran dan perilaku peserta untuk mau ikut terlibat aktif mengkampanyekan kelestarian dan lingkungan sekolah.
  2. Muncul keinginan para peserta untuk menyukseskan program-program lingkungan yang disusun secara terpadu, partisipatif dan berkelanjutan.
  3. Muncul semangat para peserta untuk ”back to nature”, ”go green” dan issue-issue lingkungan lainnya dan menerapkannya di unit masing-masing.
  4. Terbina kebersamaan antar siswa dan selanjutnya para siswa dan warga sekolah dalam mengorganisir peduli lingkungan  secara mandiri dan berkelanjutan sebagaimana program tamanisasi  yang telah dijalankan.
  5. Dapat segera membahas langkah-langkah selanjutnya guna membuat rencana dan aksi tindaklanjut terhadap  program tamanisasi sekolah.

 

  1. J.          Penggunaan Anggaran

Laporan penggunaan anggaran (terlampir)

 

  1. K.        Monitoring dan Evaluasi

Demi lancarnya suatu program maka telah dilakukan monitoring dan evaluasi oleh :

  1. Kepala SMP Negeri 4 Lembang
  2. Wakasek kurikulum, kesiswaan, sarana prasarana dan humas

 

  1. L.         Tindak Lanjut Program

Demi berkelanjutannya program tamanisasi sekolah, maka SMP Negeri 4 Lembang, dari hasil monitoring dan evaluasi selama ini, merumuskan bagaimana tindak lanjut program tamanisasi, antara lain:

  1. Pembagian perawatan dilakukan per kelas
  2. Pembagian pencatatan curah hujan oleh masing-masing kelas secara berkelanjutan
  3. Mengembangkan MUO dengan pihat terkait
  4. Membuat program berkelanjutan.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

Penutup

 

Demikianlah laporan program tamanisasi SMP Negeri 4 Lembang yang telah kami laksanakan selama ini. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh stakeholder yang telah membantu demi terwujudnya program tamanisasi SMP Negeri 4 Lembang ini.

Demi tercapainya hasil yang maksimal sesuai dengan yang diharapkan dengan ini kami memberikan saran-saran agar koordinasi dan pembinaan kepada seluruh komponen penyelenggara pendidikan lebih ditingkatkan lagi. Perlu adanya pembenahan yang lebih efisien dalam memberikan atau menyampaikan berita sehingga kami sebagai pelaksana dapat mengantisipikasi informasi yang yang lebih pasti danlebih akurat dalam melaksanakan setiap kegiatan agar tidak terjadi kesalahpahaman ataupun benturan yang tidak diinginkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran-lampiran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Informasi dan Jadwal PLPG Kabupaten Bandung Barat Tahun 2011

Informasi Untuk Peserta Sertifikasi Guru daalam Jabatan Tahun 2011

Sertifikasi guru dalam jabatan dimulai setelah data peserta dan dokumen berkas diterima Rayon LPTK. Dokumen atau berkas peserta merupakan bagian penting dalam proses sertifikasi guru dalam jabatan, disamping berfungsi sebagai dasar klarifikasi pemenuhan persyaaratan, digunaakan juga sebagai bahan dasar untuk penentuam kelulusan peserta sertifikasi guru dalam jabatan tahun 2011.

Untuk membedakan istilah dokumen/berkas yang dikumpulkan untuk masing-masing pola sertifikasi guru maka, dibedakan dalam 3 istilah :

1. Dokumen, adalah istilaah yang digunaakan untuk pola PSPL

2. Portofolio, adalah istilah untuk pola portofolio

3. Berkas, adalah istilah untuk pola PLPG langsung

Mengingat saangat pentingnya dokumen aataau berkas peserta dala proses sertifikasi guru, maka peserta sertifikasi guru wajib melengkapi seluruh dokumen atau berkas yang diperlukan. Untuk peserta yang mengirimkan dokumen atau berkaas dengan tidak lengkap sesuai dengan persyaratan yaang disyaratkan, maka yang bersangkutan dinyatakan di diskualifikasi. Oleh sebab itu sebelum dokumen/berkas dikembalikan /dikirim, haarap teliti kembali kelengkapannya oleh peserta.

Syarat yang harus dilengkapi ole Peserta Sertifikasi guru tahun 2011 khususnya yang termasuk dalam pola PLPG adalah sebagai berikut :

1. Format A1 yang telah ditandatangani oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/kota

2. Fotocopy Ijazah S1, atau D-IV Serta Ijazah S2 dan atau S3 (bagi yang memiliki) dan disyahkan oleh Perguruan Tinggi yang mengeluarkaan.

3. Fotocopy SK Pangkat/Golongan terakhir yang telah dilegalisasi oleh atasan langsung (Bagi PNS)

4. Fotocopy SK Pengankatan sebagai guru sejak pertama menjadi guru sampai dengan SK terakhir yang disyahkan oleh Pejabat terkait

5. Fotocopy SK mengajar dari kepala sekolah yang disahkan oleh atasan

6. Pas foto terbaru berwarna ukuran 3×4 sebanyak 4 lembar

7. NUPTK

Jadwal PLPG

Jadwal PLPG ini sangat diharapkan oleh peserta sertifikasi guru SD, SMP, SMA/SMK se-Kabupaten Bandung Barat pada khususnya dan daerah lain pada umumnya, beberapa informasi yang tersebar di kalangan  guru bahwa pelaksanaan mulai tanggal 13 Juni 2011, namun sampai saat ini informasi yang berhembus tersebut belum ada sosialisasinya, khususnya untuk guru mata pelajaran matematika SMP.

Para guru yang terjaring dalam serifikasi guru tahun 2011 melalui jalur PLPG ini mengharapkan  dengan segera informasi seputar Jadwal PLPG untuk tahun 2011. Guru-guru menginginkan kepastian kapan mulainya jadwal PLPG tahun 2011, karena selama ini belum ada tembusan langsung yang disampaikan oleh pihak Dinas Pendidikan maupun dari penyelenggara PLPG tahun 2011 ini.

Ada beberapa perbedaan dalam pemberkasan sertifikasi dari tahun ke tahun, untuk tahun 2011 ini pemberkasan di mulai dari pengisian daftar A-0  kemudian pengisian A-1 dengan dilaampiri

PAUD

A. Satuan Pendidikan Anak Usia Dini

1. Pada jalur Non formal meliputi: 

• Kelompok Bermain Salah satu bentuk Pendidikan Anak Usia Dini pada jalur pendidikan non formal yang meyelenggarakan program pendidikan bagi anak usia 2 sampai 4 tahun.

• Taman Penitipan Anak Salah satu bentuk Pendidikan Anak Usia Dini pada jalur pendidikan non formal yang menyelenggarakan program kesejahteraan sosial, perawatan, pengasuhan, dan pendidikan sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun.

• Satuan Pendidikan Anak Usia Dini Sederajat Salah satu bentuk Pendidikan Anak Usia Dini pada jalur pendidikan non formal selain Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain, yaitu:

a. Pos Pendidikan Anak Usia Dini (Pos PAUD) adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan pengasuhan bagi anak sejak lahir sampai dengan berusia 6 (enam) tahun yang penyelenggaraannya dapat diintegrasikan dengan program Bina Keluarga Balita (BKB) dan/atau Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).

b. Taman Asuh Anak Muslim (TAAM) adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan dan pengasuhan bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Taman Pendidikan Al-Quran.

c. Pendidikan Anak Usia Dini Sekolah Minggu (PAUD-SM) adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Kristen bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun berbasis Sekolah Minggu.

d. Pendidikan Anak Usia Dini Bina Iman Anak (PAUD-BIA) adalah salah satu bentuk satuan PAUD pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan Katholik bagi anak berusia 2 (dua) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun yang berbasis Bina Iman Anak Katolik.

2. Pada jalur formal meliputi:

• Taman Kanak-Kanak Adalah salah satu bentuk Pendidikan Anak Usia Dini jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak usia 4 sampai 6 tahun

• Raudhatul Athfal Adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan umum dan pendidikan keagamaan Islam bagi anak usia 4 sampai 6 tahun

• Satuan Pendidikan Anak Usia Dini jalur Formal yang Sederajat Salah satu bentuk Pendidikan Anak Usia Dini pada jalur pendidikan formal selain Taman kanak-kanak dan Raudatul Athfal, yaitu:

a. Tarbiyatul Athfal (TA)

b. Taman kanak-kanak Al-Quran (TKQ)

c. Taman pendidikan Al-Quran (TPQ)

d. TK-SD Satu atap

e. TK asuh

f. TK anak pantai

g. TK Bina Anaprasa

h. TK di lingkungan tempat kerja

i. TK Keliling

j. TK mahasiswa KKN

B. Program Pembelajaran Usia Dini:

1. Pada Jalur Non Formal meliputi:

a. Program pembelajaran pada TPA, KB dan bentuk lain yang sederajat merupakan seperangkat program pembelajaran yang disusun berdasarkan tahap perkembangan anak.

b. Program pembelajaran disusun mencakup semua aspek pertumbuhan dan perkembangan anak yakni: moral dan nilai agama, sosial,emosional, dan kemandirian, bahasa, kognitif, seni, dan fisik/motorik sebagai satu kesatuan kegiatan pembelajaran yang interaktif, menyenangkan, menantang, dan mendorong kreativitas serta kemandirian Program pembelajaran disusun berdasarkan pengelompokan usia, yakni: 1) Program pembelajaran untuk anak usia lahir – 1 tahun 2) Program pembelajaran untuk anak usia 1 – 2 tahun 3) Program pembelajaran untuk anak usia 3 – 4 tahun 4) Program pembelajaran untuk anak usia 4 – 5 tahun 5) Program pembelajaran untuk anak usia 5 – 6 tahun Program pembelajaran dilaksanakan secara luwes dan terpadu dengan memperhatikan kebutuhan dan kepentingan terbaik anak serta memperhatikan kecerdasan beragam anak.

c. Pengembangan program pembelajaran didasarkan pada prinsip bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain dengan memperhatikan perbedaan bakat, minat dan kemampuan masing-masing peserta didik, sosial budaya serta kondisi kebutuhan masyarakat setempat

d. Pengembangan program pembelajaran harus mengintegrasikan kebutuhan peserta didik terhadap kesehatan, gizi, dan stimulasi psikososial termasuk kesejahteraannya.

e. Program pembelajaran dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan relevansinya oleh satuan pendidikan.

2. Pada Jalur formal meliputi:

a. Program pembelajaran TK, RA, BA dan bentuk lain yang sederajat dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki SD,MI atau bentuk lain yang sederajat.

b. Program pembelajaran TK dapat dikelompokkan dalam : 1) Program pembelajaran agama dan akhlak mulia 2) Program pembelajaran sosial dan kepribadian 3) Program pembelajaran pengetahuan dan teknologi 4) Program pembelajaran estetika, dan 5) Program pembelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan

c. Semua kelompok program pembelajaran terdiri dari : pengembangan moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional dan kemandirian berbahasa, kognitif, seni, fisik/motorik. Untuk menyederhanakan lingkup program pembelajaran dari tumpang tindih serta untuk memudahkan guru menyusun program pembelajaran yang sesuai dengan pengalaman mereka, maka aspek-aspek perkembangan tersebut dipadukan dalam bidang pengembangan yang utuh mencakup bidang pengembangan pembiasaan dan bidang pengembangan kemampuan dasar

d. Penyelenggaraan program pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan mendorong kreativitas serta kemandirian.

e. Program pembelajaran disusun dengan memperhatikan tingkat perkembangan fisik dan psikologis peserta didik serta kebutuhan dan kepentingan terbaik anak dan dilaksanakan secara berkelanjutan

f. Pengembangan program pembelajaran TK di didasarkan pada prinsip bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain dengan memperhatikan perbedaan bakat, minat dan kemampuan masing-masing peserta didik, sosial budaya serta kondisi kebutuhan masyarakat setempat

g. Pengembangan program pembelajaran harus mengintegrasikan kebutuhan peserta didik terhadap kesehatan, gizi, dan stimulasi psikososial.

h. Program pembelajaran dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan relevansinya oleh satuan pendidikan. G. Waktu Belajar: Program pembelajaran pada anak usia dini untuk TK /RA dan bentuk lain yang sederajat menggunakan beban belajar satu tahun dalam bentuk perencanaan semester, perencanaan mingguan dan perencanaan harian. Perencanaan program pembelajaran di TK / RA dan bentuk lain yang sederajat adalah perencanaan mingguan efektif dalam satu tahun pelajaran (2 semester) adalah 34 minggu, dengan jam belajar efektif adalah 2,5 jam (150 menit). Perminggu adalah 15 jam (900 menit) pertahun adalah 510 jam (30.600 menit). Perencanaan program pembelajaran pada Kelompok Bermain adalah :( 1) Usia 2 – 4 tahun kegiatan bermain per minggu minimal tiga kali pertemuan. Setiap pertemuan minimal selama dua jam dengan pertemuan ideal selama 4 jam.

i.  Perencanaan program pembelajaran pada Taman Penitipan Anak adalah sebagai berikut: (1) Full day care anak dititipkan sehari penuh dari jam 08.00 sampai dengan jam 17.00, (2) Semi day care anak dititipkan hanya setengah hari dari jam 08.00 sampai dengan 12.00 atau jam 12.00 sampai 17.00, (3) insidental day care anak hanya dititipkan sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan orangtua. Perencanaan program pembelajaran pada Satuan Pendidikan Anak Usia Dini Sejenis adalah layanan minimal yang hanya dilakukan 1 – 2 kali/minggu. Tiap pertemuan minimal selama 2 jam dengan pertemuan ideal selama 6 jam.

C. Standar Pendidik dan Kependidikan

1) Pendidik PAUD pada jalur pendidikan formal terdiri dari guru dan guru pendamping 2) Pendidik PAUD pada jalur pendidikan nonformal terdidri atas guru, guru pendamping dan pengasuh 3) Tenaga Kependidikan pada PAUD jalur pendidikan formal terdiri atas : Pengawas, Kepala TK/RA, Tenaga Administrasi dan Petugas kebersihan 4) Tenaga Kependidikan pada PAUD jalur pendidikan non formal terdiri atas : Penilik, Pengelola, Administrasi dan Petugas kebersihan I. Target pendidikan PAUD Capaian 2009 dan Target APK-PAUD Tahun 2014 Pada tahun 2004 tercatat bahwa jumlah APK-PAUD baru mencapai 12,7 juta (27%) dan tahun 2008 APK-PAUD telah mencapai 15,1 juta (50,6%) serta diharapkan pada tahun 2009 akan mencapai 15,3 juta (53,6%). Berdasarkan kondisi tersebut pemerintah telah menetapkan rencana 5 tahun ke depan APK-PAUD diharapkan mencapai 21,3 juta (72,6%).